Posted by: munifchatib | November 16, 2012

“Kognitif” antara Tes Standart VS Tawuran Pelajar (PART 2)

KOGNITIF ANTARA TES STANDAR DAN TAWURAN PELAJAR
Bagian 2
By Munif Chatib

Menurut psikologi perkembangan kemampuan anak kita diyakini seluas samudera, yaitu psiko-afektif, psiko-motorik, dan psiko-kognitif. Ketika 3 ranah kemampuan ini dibandingkan satu dengan yang lain, maka banyak pendapat yang beredar.

Menurut saya, 3 ranah kemampuan ini seperti lorong yang mempunyia 3 pintu yang harus dilewati oleh anak kita. Jika lorong yang memiliki tiga pintu ini mampu dilewati anak kita, maka anak kita dapat dikatakan mampu atau cerdas. Pintu pertama adalah psiko-afektif, yaitu respon. Jika tidak ada respon maka anak kita tidak mungkin asyik atau tertantang untuk mempelajari sesuatu. Lalu kala psiko-afektif dipenuhi, maka anak kita akan berusaha menunjukkan dirinya mampu dengan berani tampil (performance), tentunya yang ditampilkan adalah produk hasil kreativitasnya. ‘Performance’ dan kreativitas itu adalah pintu kedua, yaitu psiko-motorik. Jika sebuah produk muncul di depan kita, maka akan muncul jutaan pengetahuan atau tantangan psiko-kognitif pada produk tersebut.

Jadi kesimpulannya, 3 ranah kemampuan ini sangat penting dalam proses belajar di sekolah. Tidak ada satu atau dua ranah kemampuan yang dianak tirikan. Jika sekolah tidak mementingkan kognitif, maka ibaratnya anak kita masuk lorong, namun tidak bisa keluar sebab pintu ketiganya belum terbuka.

Bahkan Howard Gardner, penemu teori kecerdasan multiple intelligence, mengatakan bahwa kecerdasan anak kita itu dapat dilihat dari kebiasaan yang mempunyai dua akar kaki.
Pertama, kebiasaan anak kita menciptakan produk-produk baru yang mempunyai nilai budaya (kreativitas). Dan kedua, kebiasaan anak kita menyelesaikan masalahnya sendiri (problem solving). Menurut saya, kreativitas itu mewakili kemampuan psiko-motorik dan problem solving itu mewakili kemampuan psiko-kognitif. Jadi kata siapa sekolahnya manusia tidak mementingkan kognitif.
Yang sering menjadi masalah adalah penyempitan makna kognitif yang luas. Kognitif yang secara luas diartikan sebagai ‘problem solving’ tiba-tiba secara formal diartikan dengan tes standart, try out, ujian nasional dan tes-tes tertutup lainya.

Selama orde baru dan orde reformasi, sistem pendidikan di negeri ini masih menitik beratkan pada kognitif dalam arti sempit, bukan kognitif dalam arti luas. Hasil akhir dari proses pembelajaran masih diwakili oleh tes standar di akhir tahun. Sehingga sekolah untuk mencapai hasil tes yang baik, nilai TOEFL yang tinggi. Ketika ditanya bukankah HAL ITU YANG TERJADI DI MASYARAKAT, dan KITA HARUS MENGIKUTI KEBUTUHAN MASYARAKAT ITU. Maka saya jadi berpikir ulang. Masyarakat yang cerdas hari ini adalah, masyarkat yang melihat kenyataan bahwa betapa banyak pelajar, mahasiswa, bahkan yang sudah sarjana sangat ‘minim’ kemampuannya dalam ‘problem solving’. Padahal kita sepakat kemampuan ‘problem solving’ itu adalah kognitif dalam arti sesungguhnya. Tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, membengkakkan anggaran negara untuk kepentingan pribadi dan lain-lain.

Semua itu adalah bukti kegagalan pendidikan yang menitik beratkan ‘kognitif sempit’. Fakta yang terjadi adalah ketidak mampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah adalah biang penyebab semua kerusakan dalam keluarga dan masyarakat. Mungkin pelajar yang tawuran bahkan saling membunuh mempunyai nilai rapor kognitif yang tinggi. Mungkin saja, namun faktanya kemampuan kognitif mereka dalam menyelesaikan masalahnya sangat rendah.

Menurut saya, masyarakat cerdas sekarang sudah memotret kejadian ini sebagai kritik kepada sistem pendidikan yang hanya mementingkan tes standar namun bukan tes problem solving. Jika ada sekolah, apapun jenjangnya, masih menomor satukan kognitif yang sempit, maka hari ini, 1 tahun lagi atau 10 tahun lagi pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat pada zamannya.

Pastilah tes standar 10 – 2 =
a) 8 b) 7 c) 6 d) 5, akan ditinggalkan jauh-jauh. Sekolah yang cerdas akan memunculkan problem solving pada setiap tesnya. Bandingkan dengan di bawah ini.
Jika seorang peternak ayam mempunyai 10 ekor ayam, lalu malam itu dua ekor ayam dimakan tikus. Tinggal berapa ekor ayam tersebut?

Jika seorang kepala sekolah, seorang rektor, atau seorang menteri pendidikan membuat KEBIJAKAN karena KEWENANGANNYA, tentang fungsi UJIAN NASIONAL adalah untuk pemetaan kualitas pendidikan setiap distrik, sedangkan yang berhak penuh meluluskan siswanya adalah SEKOLAH masing-masing. Atau semua jenis-jenis tes sebagai persyaratan administrasi untuk masuk di sebuah sekolah, misalnya tes TOEFL, tes kepribadian, riset multiple intelligence, tes SAT, dan lain-lain berfungsi untuk ‘DATABASE’ siswanya. Sedangkan yang terpenting adalah bagaimana semua siswa dapat berhasil belajar untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat. Jika KEBIJAKAN + KEWENANGAN = LEGITIMASI, maka paradigma konsumen pendidikan akan berubah juga.

Kesimpulan sementara, harapan orangtua mestinya harus adil melihat perkembangan zaman untuk anak-anaknya. Zaman sekarang membutuhkan anak-anak kita yang mahir kognitif dalam arti luas, yaitu problem solving. Saya sependapat bahwa keinginan orangtua, si anak dan sekolah harus dihargai dan menemukan kesamaan paradigma tentang bagaimana anak kita akan sukses dunia akhirat pada masanya nanti. Menghadapi saman yang makin lama makin sulit.
Dalam artikel berikutnya, saya akan mencoba memerinci detail beda antara tes standar dan tes problem solving. Hidup kognitif!!!

Bersambung ….


Categories

%d bloggers like this: