Posted by: munifchatib | October 18, 2012

Wow .. Alhamdulillah dipertemukan dengan “PENGAWASNYA MANUSIA”

BERTEMU PENGAWASNYA MANUSIA
By Munif Chatib

Betapa banyak guru yang ambil jalan pintas untuk membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau lessonplan dengan jalan membeli CD yang isinya RPP sebuah mata pelajaran dalam jenjang tertenu

untuk semua KD dalam satu tahun. Ketika saya tanya, jawabnya dahsyat:

“Ya Pak Munif, biar praktis dan cepat, jika ada pengawas tinggal diprint. Pengawas paling hanya melihat sepintas. Formatnya sudah sesuai, langsung ACC. Kenapa repot-repot. Malah teman guru yang membuat RPP sendiri banyak pertanyaan macam-macam.”

“Lalu apa RPP yang diserahkan pengawas tadi anda praktekkan di kelas?” tanya saya.
“Ya Gak lah … isinya saja saya gak baca. Hanya harus teliti mengganti nama, asal sekolah dan nama kepala sekolah. Kalau di kelas ya saya ngajar saja dengan cara saya sendiri.”
“Nah itu, apa cara anda sendiri itu dibuat RPP-nya?” tanya saya lagi penasaran.
“Ya gak lah … ngapain repot-repot. Toh saya sudah punya CD-nya,” jawabnya polos tanpa beban.

Saya hanya mengelus dada, berarti teman saya ini sebenarnya tidak membuat RPP, hanya ‘copy paste’ saja dari CD, lalu diganti namanya dan nama sekolahnya untuk kebutuhan pengawas. Selang beberapa waktu saya bertemu dengan beberapa pengawas. Ketika saya diskusikan hal ini, saya mendapatkan pengalaman yang berharga. Mereka tertawa ketika saya katakan harus hati-hati melihat RPP guru, banyak yang ‘copy paste’ saja.

“Pak Munif, kami mengetahui hal itu. Tahu sekali. Apalagi kami juga mempunyai beberapa CD contoh format RPP dari semua bidang studi. Kami tahu sekali. Namun, yang kami perhatikan, sebenarnya banyak guru yang mau mencoba membuat RPP sendiri. Hanya saja mereka takut salah dengan formatnya yang baku. Akhirnya mereka ‘copy paste’.
Kami tahu juga kalau sebenarnya format RPP itu banyak modelnya, yang penting adalah isinya. Jika kami bertemu guru dan melihat RPP-nya, kami selalu bilang ‘Jangan takut salah’. Yang penting membuat sendiri dan dilaksanakan di kelas. Sebenarnya yang salah itu adalah guru yang tidak membuat RPP. Itu saja. Sedangkan masalah format itu urusan berikutnya. Tugas kami yang harus mengayomi mereka. Pokoknya buat dulu. Kami tahu persis budaya membuat perencanaan mengajar itu masih belum terbangun dengan baik pada guru-guru kita. Karena itu, kita permudah dulu mereka dengan menulis apa yang akan mereka ajarkan dalam RPP. Mau menulis, itu sudah bagus.”

Wow … Alhamdulillah ya Allah, hari itu aku dipertemukan dengan PENGAWASNYA MANUSIA. Semoga terus menjamur sebagai kekuatan yang dahsyat membangun kualitas pendidikan Indonesia.


Categories

%d bloggers like this: