Posted by: munifchatib | October 4, 2012

Tips -Tips Praktis membangun Divisi Usaha Sekolah

KESEJAHTERAAN GURU DAN DIVISI USAHA SEKOLAH

By Munif Chatib

Ada teori seperti ini:

“Jika SPP dan UANG GEDUNG sebagai pemasukan dari sebuah sekolah, terutama sekolah swasta, pada waktu tertentu jumlah keduanya tidak mungkin untuk membayar PENGELUARAN sekolah pada pos yang besar yaitu GAJI GURU dan KARYAWAN sekolah. Jika hal itu terjadi, maka sekolah diharapkan kreatif untuk membuka DIVISI USAHA. Apapun itu bentuknya asal halal. Hasil usaha tersebut akan digunakan untuk menambahkan penghasilan guru dan karyawan.”

Sekilas teori di atas bagus. Namun harus hati-hati melaksanakannya. Terbukti ada seorang teman penyelenggara sekolah yang malah kebingungan ketika membuka divisi usaha sebuah sekolah. Permasalahannya malah dana yang disiapkan terserap di divisi usaha tersebut dan tidak pernah laba. Alih-alih dengan maksud menambah penghasilan sekolah, malah menguras keuangan sekolah. Lalu bagaimana TIPS-TIPS PRAKTIS untuk membangun divisi usaha tersebut.

Pertama, PENGELOLA DIVISI USAHA BUKAN GURU.

Divisi usaha dalam sebuah sekolah, seyogyanya dikelola oleh tim lain yang bukan guru. Sebab tugas guru sudah sangat banyak, membuat perencanaan, mengajar dan evaluasi. Jika yang dimaksud divisi usaha tersebut bersifat terbuka, artinya guru juga diberi kesempatan untuk memiliki sahamnya, maka hal tersebut sah-sah saja. Namun tetap harus dijalankan oleh orang lain, bukan guru.

Jika divisi usaha dijalankan secara profesional, maka Insyaallah akan mendapat laba yang bagus dan hasilnya dapat digunakan untuk berbagai hal.

Saya pernah mendirikan kantin di sebuah SMP. Pemiliknya adalah yayasan dan para guru. Saya bagi prosentase saham yang adil. Namun tetap, pelaksana kantinnya bukan guru. Hasilnya luar biasa. Pada akhir tahun, seorang guru mendapat laba sampai 4 juta rupiah.

Kedua, JENIS DIVISI USAHA BERKAITAN DENGAN KEBUTUHAN ELEMEN SEKOLAH

Memilih divisi usaha harus jeli. Alangkah indahnya yang berkaitan dengan kebutuhan elemen sekolah. Saya pernah membantu sekolah yang mempunyai sekitar 100 orang guru. Saya yakin setiap guru mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar,m sperti membeli beras, minyak, susu untuk anaknya dan lain-lain. Saya mengusulkkan untuk didirikan swalayan. Baik untuk umum maupun untuk guru. Tentunya yang untuk guru mendapat diskon. Hasilnya luar biasa. Jika niatnya laba yang didapat untuk menambah kesejahteraan guru, Insyallah divisi usaha tersebut berkah.

Ketiga, GUNAKAN KEKUATAN WALI MURID.

Saya pernah mengusulkan sekolah membuka toko buku, sebab saya melihat kondisi wali murid di sekolah tersebut adalah masyarakat menengah yang terpelajar. Saya pikir pasti mereka akan membutuhkan buku-buku, terutama buku agama, buku populer atau novel-novel imajinatif, dan lain-lain. Benar saja, ketika toko buku itu hadir, lalu sang pengelolanya kreatif dengan selalu memberi informasi munculnya buku-buku terbaru kepada semua wali murid. Apalagi ada layanan antar buku sampai rumah atau kantor. Terkadang setiap buku baru yang muncul ditulis resensinya dengan maksud menarik pembacanya untuk membeli. Alhamdulillah ternyata toko buku itu berjalan dengan baik dan menghasilkan laba.

Nah, tiga tips tersebut semoga bermanfaat buat teman-teman, terutama sebagai penyelenggara sekolah. Terima kasih.

 

 

 


Categories

%d bloggers like this: