Posted by: munifchatib | September 29, 2012

Ada yang menarik dalam acara Pelatihan Gurunya Manusia di Lampung

GURUNYA MANUSIA DI BUMI LAMPUNG

By Munif Chatib

Benar kan kata saya, jika seorang pimpinan atau pengambil kebijakan dalam pendidikan mengambil peran kemajuan dalam kualitas pendidikan di daerahnya, maka hasilnya seperti bola salju bergulir. Ketika gubernur Lampung, kepala dinas propinsi Lampung, dan jajarannya mendalami tentang SEKOLAHNYA MANUSIA, maka semua elemen bersatu padu untuk meningkatkan kualitas guru menjadi GURUNYA MANUSIA. Anda bisa bayangkan anda 14 kabupaten/kota di bumi Lampung.

Alhamdulillah kami sudah menyelesaikan tahap pertama di 6 kabupaten/kota. Saya menutup acara pelatihan guru, kepala sekolah dan pengawas kemarin tanggal 26-27 September 2012 di Metro dan Tabek Lampung Tengah.

Ada yang menarik, ketika acara foto bersama pada akhir sesi, seorang ibu guru tidak mau foto bersama saya. Katanya malu. Saya melihat matanya bengkak bekas menangis. Langsung saya hampiri dan saya tanya.

“Kenapa menangis ibu?”

Sang ibu ini hanya diam melihat saya. Lalu disodorkan sebuah kertas kerja, berupa note yang memang saya tugaskan kepada semua peserta. Note itu isinya adalah catatan fakta tentang terjadinya perubahan paradigma dari gurunya robot berubah ke gurunya manusia. Saya minta peserta menulis tentang sosok muridnya yang nakal atau tulalit.

Ketika saya baca, bulu kuduk saya merinding. Ini catatannya:

“Sebut saja namanya Putra. Dia anak nakal luar biasa. Saya langsung ingin terjadi perubahan perilakunya secara cepat. Saya pukul Putra. Sehari saya pukul, dia hanya diam. Lalu diulangi nakalnya lagi. Hari kedua saya pukul, dia diam lagi. Beberapa menit kemudian dia nakal. Lagi. Tak terasa, hampir dua tahun, setiap hari saya terus memukulnya sampai tangganya mengeras, membeku bekas pukulan saya. Sungguh saya hanya ingin dia berubah baik. Suatu hari, dia menghampiri saya sambil seperti biasa menjulurkan tangannya untuk dipukul.

“Kenapa? Emang hari ini kamu salah apa? Kok minta dipukul?”

“Kan, ibu sudah biasa memukul saya. Jadi sebelum saya nakal lagi, ibu pukul dulu saya. Saya ikhlas kok.”

Saya hanya diam. Memandang wajahnya yang memelas. Hari ini saya mendapat pelatihan dari Pak Munif tentang setiap anak itu adalah bintang. Bagaimana harus membuka 5 bingkisan untuk anak-anak kita. Sungguh saya berdosa sekali. Pulang dari pelatihan ini, saya ingin minta maaf kepada si Putra. Saya berjanji tidak akan memukul lagi. Yang terbukti tidak berakibat perubahan perilakunya. Terima kasih Pak Munif, dan maafkanibu ya Putra …”

Terima kasih buat bu Retno. Bu Evi dan teman-teman yang hebat GLC Indonesia.


Categories

%d bloggers like this: