Posted by: munifchatib | September 15, 2012

Tokyo, Padat Penduduk Namun Bebas Macet

TOKYO TANPA MACET DENGAN 33.750.000 PENDUDUK
Go to Tokyo, April 2013
By Munif Chatib

Sabtu, Minggu dan Senin, 8-10 September 2012 Saya dan rombongan STIT Diniyah Putri Padang Panjang keliling kota Tokyo, yang menurut data berpendduduk 33.7

50.000 penduduk. Sangat padat mestinya. Namun rasanya ada yang tidak masuk akal, yaitu jalanan kota Tokyo tampak sepi, seperti Jakarta tahun 1970-an. Apalagi saya yang tinggal di Jakarta dapat membandingkan langsung. Data tahun 2010, penduduk Jakarta hanya 9.607.787. Bandingkan dengan Tokyo. Hari Sabtu dan Minggu libur, saya dan Pak Iswoyo menduga sepinya kota ini di sebabkan hari libur. Namun ternyata salah, hari Seninpun kondisinya sama sepinya. Lalu pada kemana orang-orang di sini?
Akhirnya saya tahu, Tokyo ternyata mempunyai dua lapis alam. ALAM BAWAH dan ALAM ATAS. Sepinya kota Tokyo disebabkan saya berada di ALAM ATAS, yaitu jalan raya, gedung-gedung bertingkat, taman-taman kota, gedung perkantoran dan lain-lain. Ketika saya masuk ke ALAM BAWAH, barulah saya melihat kepadatan kota Tokyo sebenarnya.
Stasiun kereta api bahwa tanah, adalah transportasi publik di Tokyo yang menjadikan kota tersebut bebas macet. Saya berkeliling menikmatinya dari stasiun satu ke stasiun yang lain dengan tiket kecil. Mulai dari stasiun Yurikamome, Odaiba, dan Shimbashi. Jalan dalam stasiun bahwa tanah tersebut di bagi dua dengan tanda anak panah. Artinya sebelah kiri dan sebelah kanan. Ribuan orang berbaris berjalan menurut anak panah, tanpa bertabrakan. Ketika kereta berhenti, naik pun ada aturannya, sebelah kiri tempat orang naik dan sebelah kanan tempat orang turun. Sederhana aturannya namun rapi dan dijalankan. Satu lagi, betapa nyamannya kereta bawah tanah tersebut. Hampir semua orang duduk rapi dengan membaca buku atau menggunakan semacam ipad untuk membaca e-book. Kereta di ALAM ATAS juga ada. Tanpa masinis, melintasi kota Tokyo yang indah. Hebat sekali.
Saya bertanya kepada Nakata Yuki,yang pernah kuliah di UPI Bandung tentang bagaimana masyarakat Tokyo sangat disiplin dan menjaga fasilitas publik, seperti transportasi umum. Nakata menjawab: “Semua diajarkan di SEKOLAH sejak TK, bagaimana cara masuk ke stasiun bahwa tanah, berjalan lewat jalur mana, cara masuk ke pintu kereta agar rapi dan tidak saling mendorong. Semuanya kami dapatkan itu sejak kecil di SEKOLAH.”
Saya membayangkan, jika calon gubernur Jakarta mendatang atau sudah terpilih menjadi gubernur Jakarta, belajar sistem transportasi di Tokyo, mungkin Jakarta tidak akan terkena penyakit kronis yaitu MACET SEUMUR HIDUP. Ayo bangun Jakarta menjadi dua alam dengan transportasi publik yang nyaman.

Tokyo, 7-11 September 2012


Categories

%d bloggers like this: