Posted by: munifchatib | August 6, 2012

Terima dari kasih bangsaku untukmu wahai Karbitttt

KARBIT

By YSL

          Saya sudah mulai akrab dengan kata “karbit “ sejak kecil dulu,  terutama  pada waktu datangnya bulan puasa. Betapa tidak? Karbit  disukai anak-anak karena walaupun baunya agak busuk menyengat tapi bisa dipakai untuk membuat ledakan suara tanpa harus membeli petasan. Karbit  adalah sahabat setia yang mengasyikan mulai dari saat “ngabuburit”  habis buka bahkan setelah makan sahur. Cara yang paling gampang adalah dengan meletakan serpihan karbit ke dalam air pada tutup kaleng bekas semir sepatu kemudian ditutup oleh bekas kaleng susu yang diberi lubang. Setelah beberapa detik karbit bereaksi dan kita sulutkan api pada lubang kaleng susu tersebut maka terdengarlah letusan dan si kaleng akan terlempar. Cara yang lebih elit adalah dengan menggunakan meriam bamboo atau lodong yaitu bambu  dengan diameter sekitar 15 cm yang dibersihkan ruasnya sehingga hanya tersisa di ujungnya . Bambu tersebut diberi lobang dan biasanya diisi minyak tanah sehingga bila api disulutkan pada lobang di atas minyak tanah tersebut maka si lodong akan meledak laiknya meriam.  Karbit bisa juga digunakan untuk mengganti minyak tanah walaupun agak lambat tapi ledakannya lebih dahsyat.

         Menginjak SMP, saya mulai  sering jalan ke pasar babatan dan mencium bau karbit setiap melewati pedagang buah-buahan. Ternyata karbit juga acap dipakai untuk mempercepat matangnya pisang atau buah-buahan lain  yang dipetik paksa selagi mentah sehingga mempercepat pemasukan uang bagi tengkulak dan pedagang. Memang ibu saya bilang kalau beli buah carilah yang matang beneran jangan yang matang dikarbit.

          Ternyata kebiasaan bangsa kita untuk karbit mengkarbit tidak saja terbatas pada buah-buahan tapi  juga menular pada berbagai segi kehidupan. Walaupun masih ada satu dua aktor dan artis yang berkembang melalui proses belajar dan berlatih keras tapi lebih banyak lagi anak-anak dan remaja sekarang yang dikarbit sehingga dapat melejit menjadi  artis dan aktor ngetop dalam bilangan tahun dan menjadi milyuner. Demikian juga dengan  mentri-mentri kita sekarang; tinggal satu dua gelintir saja yang mencapai jabatan tersebut melalui jalur karir dan proses  berjenjang yang panjang, selebihnya adalah mentri karbitan produk partai atau pengusaha cukong  penguasa. Fenomena lainnya yang banyak kita saksikan adalah banyaknya  manusia Indonesia yang jadi orang kaya karbitan yang tiba-tiba menjadi milyuner setelah menjadi pengurus partai atau kerennya anggota DPR terhormat.

          Saya sudah tidak terlalu peduli dengan manusia-manusia karbitan dalam contoh diatas, biarlah mereka menuai dan menikmati sendiri buah karbitannya. Tapi yang membuat saya trenyuh dan nyaris putus asa adalah gejala umum perilaku orang-orang tua yang lebih suka mengkarbit anak-anaknya daripada membiarkan mereka bermain bebas ceria melewati masa kanaknya. Sejak usia balita mereka dikarbit nalar matematiknya dengan berbagai jenis karbit seperti Kumonlah  atau matematik ala Jepanglah atau mungkin ala Cina yang tujuannya agar si anak menjadi super. Ketika saya jalan jalan ke Pacific Place saya juga menyaksikan bagitu antusiasnya para orangtua mendaftarkan anak anaknya yang masih berusia satu digit untuk mengikuti Kidzania yaitu ajang pura-pura dewasa menjadi penerbang, doctor, bahkan mereka memiliki cabinet dan parlemen segala macam. Kalau dulu ada istilah yang berkonotasi negatif dalam bahasa Sunda buat anak-anak semacam itu “KOKOLOT BEGOG.”

          Memasuki  usia remaja, sang anak sudah diwajibkan ikut dalam berbagai bimbingan test dan kursus-kursus karbitan sehingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk menikmati indahnya masa remaja.

          Berbeda dengan di Amerika, ketika saya berkesempatan tinggal 5 tahun di sana, hampir tidak pernah melihat anak-anak bule yang dikarbit kemampuan matematiknya. Justru sejak sekolah dasar sampai highschool, yang diutamakan adalah pendidikan jasmani dan musik dengan maksud membiasakan sikap sportivitas dengan berolah raga dan saling menghargai orang lain dalam pelajaran konser music. Selain itu mereka diasah kemahiran mengemukakan pendapat baik lisan maupun tulisan dengan menulis paper dan mempresentasikannya di depan kelas sejak SD sampai mahasiswa. Satu hal lagi yang diharamkan adalah cheating atau menjiplak apalagi mencontek.

           Saya tidak berani mengatakan bahwa mengkarbit anak-anak Indonesia itu sebuah fenomena yang baik atau buruk, justru saya bingung karena kenyataannya banyak diantara anak-anak Indonesia yang dikarbit tersebut berhasil menjuarai berbagai kompetisi matematika, fisika, bahkan robot internasional  mengalahkan bule bule sebaya mereka.Tapi yang jelas kebiasaan karbitan itu telah melahirkan budaya dan perilaku instant para pimpinan di negara ini. Proyek-proyek dibuat crash program. Walaupun banyak crash program yang berakhir dengan crashhhh seperti proyek percepatan diversifikasi energy. 10 000 MW, percepatan menanggulangi pemadaman instant dengan sewa disel, penyambungan sejuta pelanggan, tapi kelihatannya hobi ini most probably masih banyak yang akan muncul dalam bentuk program target 100 hari dan semacamnya yang tidak saya ketahui.

          Rekans boleh beralasan bahwa pengkarbitan tidak bisa dihindari dalam dunia yang hyper competitive seperti sekarang ini, tapi bagi saya tetap produk alami adalah produk yang paling baik bagi kesehatan termasuk kesehatan jiwa anak-anak kita. Saya lebih menghargai anak yang memilih untuk menjadi penonton yang bertepuk tangan daripada dipaksa menjadi hero atau selebritis karbitan

Terima dari kasih bangsaku untukmu wahai Karbitttt


Categories

%d bloggers like this: