Posted by: munifchatib | July 20, 2012

TIPS MEMBUAT FOKUS SISWA

Tips Membuat Fokus Siswa

By Munif Chatib

Tahun ajaran baru 2012-2013 tiba, saya kembali dapat kesempatan mengajar TK-A BUNGA BANGSA SIDOARJO, kelas baru. Biasanya banyak guru yang mengalami kesulitan untuk memulai pelajaran dan membuat fokus siswa. Apalagi siswa yang mempunyai kecerdasan kinestetis, tak pernah duduk diam. Dalam kelas tersebut ada dua anak berkebutuhan khusus. Sebut saja Habibi, yang katanya hiperaktif dan Melda yang autis. Saya mendapat silabus dari kepala sekolah mengajar tentang suku kata. Targetnya anak-anak mengetahui setiap kata mempunyai suku kata. Menurut saya hal ini penting sebagai awal untuk pelajaran membaca. Di BUNGA BANGSA, untuk membaca di awali dengan memahami kata, lalu suku kata, barulah huruf. Menurut Glen Doman, seorang ahli urusan membaca, untuk pertama kali mengajari anak membaca harus dari sebuah kata yang bermakna, sebab langsung akan ditangkap oleh otak anak. Misal kata BAJU dengan gambar atau contoh baju, akan lebih ditangkap oleh otak dari pada di awali dengan CA-CI-CU, DA-DI-DU, sebab otak tidak akan pernah menangkap makna CA-CI-CU. Atau otak anak akan bertanya, makhluk apakah CA-CI-CU itu?

Saya menyiapkan lessonplan dua hari sebelumnya, dan cukup kaget ternyata kelas tersebut berisi 30 siswa. Dua kelas dijadikan satu.

“Mumpung Pak Munif yang ngajar, jadi saya jadikan satu,  he he he maaf ya pak,” kata kepala sekolahnya.

Ramai sekali kelas tersebut. Untung saya sudah siapkan SCENE SETTING yang dahsyat. Setelah berkenalan saya minta anak-anak membuat lingkaran, saya berada di tengah. Seperti biasanya, untuk membangun pengetahuan awal, saya awali dengan bertanya.

“Siapa yang pernah masuk hutan?”. Wow, jawabannya ramai sekali sambil semua mengangkat tangan.

“Dalam hutan ada apa saja?”.

“Binatang, macan, ular…,” riuh sekali, saya beri kesempatan anak-anak untuk mengeluarkan pengetahuan awalnya tentang hutan dan isinya. Hanya si Melda yang bengong sambil memperhatikan teman-temannya berteriak. Sampai seorang siswa menjawab agak berberda.

“Pak Munif, di hutan ada pohon,” katanya.

“Ya, hebat kamu, di hutan banyak pohon,” saya beri siswa tersebut pujian dengan mengusap-usap rambutnya.

“Okey, sekarang setiap anak harus mempunyai binatang yang disukainya. Satu anak satu binatang. Ini ada stiker binatang. Silahkan anak-anak memilih dan menempelkannya di dada masing-masing. Satu, dua, tiga, go …,” instruksi saya.

Anak-anak langsung berlari memilih dan mengambil stiker-stiker bergambar binatang di atas meja. Mereka langsung menempelkannya di dadanya.

“Sekarang di hutan juga ada pohon. Saya minta anak-anak membuat pohon dari gulungan kertas bekas. Satu anak membuat tiga pohon.” Saya memberi contoh dengan menggulung kertas-kertas bekas yang sudah saya siapkan.

Saya melihat anak-anak antusias menggulung kertas-kertas tersebut.

“Buat apa ini Pak Munif?” tanya seorang siswa yang mungil  menghampiri saya.

“Sayang, kita mau buat hutan, pasti seru,” jawab saya yang disambut dengan senyuman manisnya.

“Sekarang kita keluar dari kelas, kumpulkan pohon-pohon itu di lingkaran ini,” instruksi saya dengan membuat lingkaran di halaman kelas. Setelah anak-anak mengumpulkan pohon di tempat yang sudah ditentukan saya meminta anak-anak untuk melepaskan binatang kesayangannya untuk masuk ke hutan, dengan mencopot kembali stiker binatangnya. Say abagi mereka dalam tiga baris dan satu mengelilingi pohon-pohon kertas tersebut untuk meletakkan stiker binatang ke tumpukan kertas-kertas tersebut. Agar lebih seru, saya anak-anak juga menirukan gerakan binatangnya dan suaranya sebelum mencopot stikernya. Sangat lucu sekali mereka mengekspresikan gerakan dan suara binatang. Ada dua anak yang bersitegang sebab bingung tidak tahu suara binatang yang dipilihnya yaitu semut dan cacing. Saya bilang kepada keduanya untuk berkreasi sendiri bagaimana suara binatang tersebut. Dan akhirnya untuk semut, anak tersebut hanya diam sambil matanya melotot lalu berjalan zig-zag menuju hutan kertas, lalu meletakkan stiker semutnya. Semua teman-temannya dan saya tertawa. Bagaimana dengan si cacing? Siswa tersebut mendesis sambil meliuk-liukkan badannya.

Setelah semua binatang sudah masuk ke hutan kertas, saya mulai bercerita bahwa saat ini hutan mulai hilang. Penyebab utamanya adalah manusia yang menebangi pohon dan menembaki binatang-binatangnya. Juga hutan dibakar untuk mendirikan perumahan-perumahan yang rawan banjir dan longsor. Saya bercerita dengan serius, saya menggunakan intonasi yang kuat dan saya menunjukkan gambar-gambar hutan yang terbakar.

“Jika hutan di depan adik-adik ini terbakar, maukah adik-adik menyelamatkan para binatangnya?” tanya saya.

“Mau ..mau ..mau,” teriak anak-anak.

“Ada dua syarat untuk menyelamatkan binatangnya. Pertama, adik-adik harus bisa menyebutkan nama binatang dan yang kedua bisa menyebutkan jumlah BOM nama binatangnya. Jika dua ini benar, maka binatang bisa selamat. Jika ada yang salah maka binatangnya tidak selamat.”

Saya memberikan contoh. Saya menunjukkan kepada siswa gambar TIKUS.

“Ini binatang apa?” tanya saya.

“TIKUS,” jawab seorang siswa.

“Hebat, TIKUS mempunyai BOM. Perhatikan, TI … saya mengangkat tangan kanan, lalu KUS … saya mengangkat tangan kiri. Jadi BOMnya ada dua, yaitu TI dan KUS.”

Setelah latihan sebentar, saya mengamati ada siswa yang bisa dan belum. Lalu saya membuat FOKUS yang dahsyat dan membuat anak-anak terperangah, yaitu saya membakar tumpukan pohon kertas yang di dalamnya ada stiker binatang-binatang tersebut. Tentunya saya bercerita tentang bagaimana ada orang jahat yang membakar hutan ini. Pada saat apoi menyala dan mulai membesar, saya minta anak-anak mengelilingi lingkaran api tersebut. Saya terus bercerita dan menantang semua anak untuk menjadi pejuang menyelamatkan binatang-binatang tersebut dengan mampu menyebutkan nama dan BOMnya. Setelah api makin mengecil dan padam, saya bagi menjadi dua baris, putra dan putri. Setiap siswa harus mengucapkan 5 binatang  dan BOMnya pada gambar binatang yagn sudah saya siapkan.

Luar biasa, anak-anak berusaha untuk mampu menyelamatkan binatang-binatang tersebut. Dan ramai sekali ketika mereka mengucapkan BOM setiap kata binatangnya. Yang lucu ketika saya perlihatkan gambar KELINCI. Seorang siswa mengucapkan BOM dengan berteriak, KE .. mengangkat tangan kanan, LIN … mengangkat tangan kiri. Setelah itu bengong lalu beranya kepada saya.

“Pak Munif, kurang satu, pakai kaki boleh?”

“Boleh sayang,” jawab saya spontan. Si anak langsung mengangkat satu kakinya, diikuti dengan sorak temannya. Saya mencatat hasilnya di selembar kertas, sebab saya sudah mnyiapkan rubrik penilaiannya. Hasilnya luar biasa, semua siswa mampu memahami suku kata dalam setiap kata dengan cara mengangkat tangan dan kakinya. Hanya istilah suku kata itu saya ubah menjadi BOM. Hanya satu yang tidak bersuara, yaitu Melda. Dia hanya mengikuti barisan, ketika saya tunjukkan sebuah kartu gambar, Melda hanya menggelengkan kepala.

“Gak pa pa sayang, Melda pasti nanti bisa ya,” kata saya menenangkan dia. Dia tersenyum lalu kembali duduk.

Ketika bel berdering, tanpa waktu mengajar saya selesai, saya mendapatkan dua momen spesial. Pertama, ketika saya di depan pintu kelas, si Melda menarik baju saya dan meminta saya menunduk. Lalu dengan perlahan di bilang KU – DA sambil menujukkan saya gambar KUDA.

“Wow melda bisa, melda bisa,” teriak saya sambil menggendongnya. Saya tunjukkan kepada semua teman-teman Melda, kalau barusan melda berhasil bilang KU – DA. Semua ikut senang.

Kedua, si Habibi mendekati saya lalu berteriak keras.

“Pak Munif besok ngajar lagi ya, seruuuuuu ….”

Alhamdulillah hari itu saya juga bahagia bisa berbagi dengan anak-anak yang hebat. Mereka antusias menyelamatkan binatang-binatang tersebut. Mereka masih tidak mau beranjak dari sisa-sisa hutan yang terbakar tersebut.


Categories

%d bloggers like this: