Posted by: munifchatib | June 15, 2012

Jangan Menyerah, Alya !

JANGAN MENYERAH ALYA, TERUS SEKOLAH!

By Munif Chatib

Sebut saja si Alya, siswa TK-B di PAUD BUNGA BANGSA SIDOARJO. Kebetulan Alya mempunyai hambatan lumpuh layu, kedua kakinya tidak berfungsi. Namun Allah SWT memberikan kelebihan kemampuan kognitif yang hebat. Alya sudah mampu membaca dan menulis. Juga kemampuannya beradaptasi luar biasa. Meskipun jika berjalan dia ‘ngesot’ tapi Alya banyak disukai teman-temannya. Saya sering bilang Alya itu mempunyai kecerdasan interpersonal dan logis matematis yang bagus. Apalagi sekolahnya Alya sangat mendukung dan membantu Alya untuk tetap senang belajar. Masih terbayang dalam ingatan, bagaimana gembiranya sang Bunda alya, ketika anaknya dapat diterima sekolah di PAUD BUNGA BANGSA.

“Kondisi Alya seperti ini ibu, tapi saya siap menemaninya, mengangkatnya ke mana-mana, asal dia dapat belajar,” kata sang Bunda kala itu.

“Alhamdulillah, sekolah ini siap menerima Alya, Bunda tenang saja. Ayo bersama kita lakukan yang terbaik untuk Alya,” kata kepala sekolah dengan antusias menyambut Alya. Demikian juga guru-gurunya. Dan tiba-tiba selama 2 tahun PAUD BUNGA BANGSA SIDOARJO menjadi rumah yang menyenangkan buat Alya. Setiap aktivitas yang melibatkan Alya, semua guru berusaha mendisain program itu sesui dengan Alya. Alya suka mengaji dan melantunkan doa-doa pendek, bahkan suka menari. Ketika perpisahan TK-B, Alya dan teman-temannya menari tari Saman dari Aceh. Alya dengan suka cita dan bergairah menari, meskipun hanya duduk. Namun dia menikmati pengalaman hidup yang indah itu.

Sungguh, waktu 2 tahun, semua lingkungan Alya mendukungnya. Hambatan ‘lumpuh layu’ pelan-pelan di atasi. Kini Alya menjadi gadis kecil yang percaya diri.

Namun, minggu-minggu ini, Alya harus meneruskan sekolah ke SD. Sang Bunda mulai berjuang lagi mencari sekolah buat Alya. Sampai hari ini, Bunda Alya hanya mampu menangis. Mendapatkan kenyataan pahit tentang ketidakadilan pendidikan di negeri ini. Inilah jawaban banyak sekolah yang enggan menerima Alya.

“Maaf, kami hanya menerima anak-anak yang sehat,” celoteh sebuah sekolah tak beradab, sekolahnya robot.

“Memang, dulu memang sekolah ini adalah sekolah inklusi, tapi sekarang sudah tidak lagi, sebab sangat repot mengurus anak-anak berkebutuhan khusus,” satu sekolah lagi menolak dengan sebuah alasan yang tidak manusiawi.

“Aduh ibu, bawa pulang anak ibu. Anak yang normal saja, kita sulit mendidiknya, apalagi anak yang lumpuh tidak bisa jalan, maaf kami tidak menerima,” ucap lagi sekolah lain yang egois.

“Ya tahun lalu kami menerima anak berkebutuhan khusus, sekarang sudah tidak lagi, sebab kepala sekolah SD ini sekarang sudah ganti,” seloroh sekolah yang kebingungan berganti-ganti kepala sekolah dan sistem.

Bunda Putri tidak putus asa.

“Saya akan menemani Alya. Alya hanya perlu duduk saja di bangku. Semua aktivitasnya biar saja saja yang membantu. Angkat dia, bawa ke wc, biasa saya saja, jangan gurunya,” Bunda Alya terus meratap untuk anaknya.

“Maaf, nanti akan menimbulkan kecemburuan buat yang lain, masa orangtuanya selalu hadir di kelas?” kata sebuah sekolah yang sok disiplin.

“Pak Munif, kenapa PAUD BUNGA BANGSA, tidak bangun SD. Agar anak-anak seperti Putri terus bisa sekolah. Tidak diombang-ambing seperti ini,” ucap Kepala Sekolah PAUD BUNGA BANGSA sambil menangis. Saya hanya menunduk, betapa selama ini saya belum melakukan apapun untuk Alya dan anak-anak berkebutuhan khusus yang lain.

Kenyataannya, setiap hari airmata sang Bunda yang terus menetes pada minggu-minggu pendaftaran siswa baru.

Hanya ada satu sekolah yang mau menerima Alya, sebuah sekolah inklusi, namun biayanya sungguh tak terjangkau untuk Bunda Alya.

Lalu apakah Alya harus berhenti sampai di sini?

Tak punya tempat untuk sekolah

Tak punya asa untuk meraih cita

Kata orang, setiap sekolah pasti menerima anak pintar

Ketahuilah Alya itu pintar

Lalu mengapa kognitif masih dikalahkan lagi oleh kondisi fisik?

Jangan menyerah Alya

Jangan berhenti Bunda

Kami terus membantu sekuat daya

Biarkan sekola-sekolah robot itu menolak Alya

Pasti ada jalan keluar

Pasti ada sekolahnya manusia

 


Categories

%d bloggers like this: