Posted by: munifchatib | June 8, 2012

DENGARKAN JIWA …, BUKTI SETIAP ANAK ADALAH BINTANG

Catatan kecil buat Sarah Baqir dan Ayah Bundanya

By Munif Chatib

Semalaman saya dibuat takjub dengan buku yang baru dihadiahkan kepada saya, judulnya Dengarkan Jiwa, karya Sarah Bagir. Dan yang menghadiahkan adalah Pak Haidar bagir, ayahanda Sarah. Sangat spesial sekali. Saya langsung mengucapkan selamat buat Sarah. Ada dua hal yang menurut saya dahsyat.

Pertama kemampuan Sarah menulis puisi. Saya suka dengan puisi dan mungkin gara-gara rasa suka ini, semalaman saya baca semua puisi Sarah dengan serius di depan isteri saya. Ada nuansa kedalaman makna pada kata yang sederhana, alur yang memantik untuk berpikir dan bait pendek namun punya keluasan nalar. Perhatikan bait-bait dari puisi ini.

Dengarkan Jiwa

Sarah Baqir

Apakah ini suara merduku?

Kudengarkan detak jantungku

Aku berjalan pelan-pelan

Semakin mendekat

Aku mendengar

Apakah ini kekasih cinta?

Apakah ini kehidupan?

Apakah kau Jiwa yang Terbesar?

Yang ku dengar?

Ini cuma peringatan

Akan kebebasan ini

Di istana jiwa ini

Kau mendengar

Sebuah alunan

Cintaku

Berjalan Jiwa Terbesar Istana
Kebebasan Kehidupan Kekasih

Berlayar

Apakah kau perahu istemewaku?

Kini pun aku berlayar

Di tengah-tengah laut

Hal kedua yang membuat saya kagum adalah Ayah Bunda Sarah, yaitu Pak Haidar Bagir dan Ibu Lubna Assagaf. Menurut saya, mereka berdua adalah Orangtuanya Manusia. Dalam pengantar buku ini, mereka mengungkapkan keberkahan yang besar atas kelahiran putrinya dan anak-anak yang lain. Ketika Sarah mempunyai kekhususan, yaitu kelambatan bicara (speech delay) dan logis matematis, justru mereka berdua melakukan ‘discovering ability’ Sarah. Dan akhirnya, betapa banyak bakat Sarah yang muncul dari rasa suka dan hobinya. Sampai pada titik tertentu, ada hal yang berbalik. Dari kelambatan berbicara, tiba-tiba Sarah mampu menuliskan bait-bait puisi yang indah dan dalam maknanya, tentng Tuhan, cinta dan keindahan. Menurut saya, Ayah Bunda Sarah berhasil membuka bingkisan BINTANG kepada anaknya. Semoga apa yang dilakukan oleh Ayah Bunda Sarah menjadi inspirasi banyak orangtua di negeri ini. Agar mereka selalu menganggap setiap anak yang dilahirkan adalah ‘karya agung’ Tuhannya. Terima kasih Sarah, Pak Haidar, dan Bu Lubna sudah memberikan percikan kesadaran untuk apa kita menjadi orangtua.

Jakarta, 8 Juni 2012


Categories

%d bloggers like this: