Posted by: munifchatib | September 9, 2011

STRATEGI MENGAJAR MULTIPLE INTELLIGENCE UNTUK SEMUA JENJANG PENDIDIKAN

STRATEGI MENGAJAR MULTIPLE INTELLIGENCE UNTUK SEMUA JENJANG PENDIDIKAN

By Munif Chatib

Beberapa pertanyaan masuk ke email saya tentang strategi mengajar. Intinya ada sebagian guru yang menganggap strategi mengajar multiple intelligence hanya cocok untuk jenjang TK dan SD, sedangkan SMP, SMA dan seterusnya sudah tidak cocok lagi. Saya sepertinya perlu meluruskan dan menjawab pertanyaan ini.

Pertama, istilah strategi multiple intelligence seperti yang saya tulis dibuku saya GURUNYA MANUSIA adalah seperti sebuah konteks yang luas. Apapun nama strateginya, saya berusaha menamakan itu strategi multiple intelligence. Contoh strategi sosio drama (role play) sah-sah saja saya masukkan dalam keluarga besar strategi multiple intelligence. Demikian juga kolaboarasi, service learning, simulasi, dan lain-lain. Bersama teman-teman guru yang kreatif, sudah terkumpul 200 lebih strategi mengajar yang kami namakan strategi multiple intelligences. Pernah seorang teman di kampus bertanya kepada saya untuk saya membuat definisi formal tentang srategi multiple intelligences. Saya katakan strategi multiple intelligences adalah strategi mengajar dalam sebuah proses belajar mengajar yang menitik beratkan pada kecocokan antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa, sehingga tujuan pembelajaran tuntas. Istilah multiple intelligence saya pakai sebab untuk mengetahu gaya belajar seseorang itu bersumber pada kecerdasannya, yang saat ini diistilahkan multiple intelligences. Yang sering kurang dipahami, adalah pada saat guru memberikan tes kepada siswanya dalam bentuk apapun, tes formatif, sumatif, atau ujian akhir, sebenarnya aktivitas tersebut adalah sebuah strategi. Kami menamakan strategi ‘exercise’. Dan strategi exercise itu adalah salah satu dari ratusan strategi multiple intelligences.

Kedua, dalam buku saya GURUNYA MANUSIA dijelaskan bahwa, strategi mengajar itu mengandung unsur-unsur metode, prosedur aktivitas dari metode tersebut, yang di dalamnya ada istilah teknik dan trik, lalu terakhir adalah penilaian. Jadi ketika saya mengajar di jenjang TK saya memilih strategi SOSIO DRAMA atau roleplay, demikian juga saya mengajar SD kelas 5 menggunakan stategi yang sama. Ketika saya menggunakan strategi sosio drama itu ke jenjang SMP dan SMA, hasilnya luar biasa. Semua siswanya sangat antusias mengikuti proses belajar. Ketika saya mengunakan strategi sosio drama di kampus, para mahasiswa menyambutnya dengan dahsyat. Lalu apa yang membedakan strategi itu pada setiap jenjangnya? Pastilah pada unsure prosedur aktivitas dan penilaiannya. Saya berpendapat, teman-teman guru yang mengatakan bahwa strategi multiple intelligences hanya cocok untuk jenjang TK dan SD mungkin disebabkan kurang pahamnya terhadap ‘ruh’ strategi mengajar itu sendiri. Saya dulu juga terjebak kalau mengajar pada tingkat SMP, SMA dan perguruan tinggi, hanya menggunakan strategi tunggal yaitu metode ceramah. Padahal betapa banyak siswa dan mahasiswa yang mengantuk pada saat guru dan dosennya berceramah.

Ketiga, strategi multiple intelligence, apapun metodenya, menurut saya lebih banyak menggunakan pendekatan ‘student center’ yaitu siswa sebagai penerima informasi yang harus aktif dalam pembelajaran.

Jadi kesimpulannya, strategi mengajar multiple intelligence dengan metode apapun dapat dipraktekkan dalam semua jenjang pendidikan. Saya pernah berdiskusi dengan sekelompok guru yang getol tidak mau menerima strategi multiple intelligence untuk jenjang SMP ke atas, ternyata pada ujung diskusi, kita menyimpulkan kelompok guru tersebut adalah guru yang tidak mau repot, tidak kreatif, mereka hanya ingin mengambil gampangnya saja dalam mengajar, yaitu ‘berceramah’. Semoga semua guru terhidar dari jebakan kemalasan untuk kreatif. Semoga bisa membantu


Categories

%d bloggers like this: