Posted by: munifchatib | June 5, 2011

Ibu, Maafkan Aku……..by Fauziah Fauzan El Muhammady

Ibu, Maafkan Aku……..by Fauziah Fauzan El Muhammady

“Ibu , maafkan aku.” Kata-kata itu mengalir dari anak didikku, santri kelas XII yang baru saja menerima pengumuman hasil UN tahun ini. Tubuhnya berguncang menangis dalam pelukanku. Aku biarkan ia melepaskan beban hatinya, sambil kuusap kepala dan punggungnya. Dia telah membuka amplop pengumuman di samping namanya tertulis kata “Tidak Lulus.”

Bagi sekolah kami, tahun ini adalah tahun suka cita. Para guru, ustadz, dan ustadzah yang menjadi pendidik di tingkat Madrasah Aliyah banyak meneteskan air mata haru. Betapa tidak, pencapaian sekolah kami tahun ini melejit pesat.

Pencapaian nilai santri naik hampir dua kali lipat. Itu diperoleh dengan jujur. Setelah sekolah kami menerapkan pecat di tempat bagi santri yang ketahuan mencontek dalam lima tahun terakhir. Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun ini dua orang santri mampu meraih peringkat pencapai nilai UN tertinggi di Sumatra Barat. Namun, di balik kebahagiaan itu, juga ada kesedihan. Satu orang santri kami tidak lulus.

Selesai rapat guru membahas perihal hasil UN, aku berpikir keras.Ya Allah, bagaimanakah menyampaikan hasil ini kepada anakku? Alangkah berat baginya menerima kenyataan ini. Setelah belajar sungguh-sungguh, beribadah dengan tekun, namun ketetapan Allah SWT bagi dirinya adalah : Tidak Lulus. Aku tahu Allah Maha Adil meskipun kehidupan di sekeliling kita penuh dengan ketidakadilan.

Alllah lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaNya. Namun tetap saja ada rasa perih mengalir dalam dada ketika melihat nilai yang diperoleh santriku yang hanya kurang 0,02 lagi untuk mencapai lulus. Terbayang betapa sungguh-sungguhnya anakku itu beribadah wajib dan sunnah. Menjaga akhlak dan kesantunan. Belajar dengan tekun dan giat serta menjaga kejujuran. Namun itu ternyata belum cukup menghantarkannya mencapai kelulusan yang dinilai oleh manusia dan komputer canggih.

Sementara di sisi lain, betapa banyak pelajar seusianya, pada saat UN yang baru berlangsung melakukan kecurangan. Kecurangan memperoleh kunci jawaban yang bahkan dikoordinir oleh guru mereka sendiri. Pemberian kunci jawaban dan transaksi itu konon dilakukan di WC sekolah. Tempat pembuangan bagian tubuh manusia yang paling kotor, itulah tempat transaksi dunia pendidikan Indonesia dewasa ini. Semua kita tehipnotis dengan TST, Tahu Sama Tahu. Tetapi tak bersuara dan pura-pura tutup mata.Dadaku perih.

Para koruptor dan pengedar narkoba konon banyak tertangkap ketika bertransaksi di hotel berbintang lima. Kamar yang luks, eksklusif, wangi, dan mewah. Dengan tarif semalam bisa dua kali gaji guru PNS sebulan. Tetapi dunia pendidikan melakukan transaksi yang lebih menjijikkan, yaitu di WC sekolah yang bulukan, berlumut, banyak sampah, coretan, dan bau. Di situlah nilai pendidikan diusahakan kecemerlangan. Memilukan dan memalukan.

“Ibu, maafkan aku,” kata-kata itu kembali terucap di antara isak tangis anakku. Apa yang harus dimaafkan, Nak? Tanyaku memandangnya lekat. Ananda berbuat curang? Dia menggeleng. Apakah ananda melakukan kesalahan besar? Dia juag menggeleng. Bagi ibu, ananda semua lulus seratus persen. Lulus ujian kejujuran dalam kehidupan. Termasuk dirimu, Nak. Engaku telah lulus dengan baik dalam catatan malaikat dan dalam pandangan Allah.

Aku berusaha meyakinkan dirinya. “Tetapi aku gagal membuat bangga sekolah kita, Bu,” jawabnya lagi. Aku memeluknya kian erat. Dan kukatakan, “Nak, semua guru dan adik-adik kelas bangga pada dirimu dan teman-temanmu. Kalian semua adalah generasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah panjang Indonesia. Yakinlah itu.” Kalian semua lulus sayang, termasuk dirimu. Ibu bangga padamu…

Dalam pelukanku, tangis santriku mereda. Dia mulai menghapus air matanya. Di wajah dan tangannya terlihat bintik-bintik hitam bekas sakit cacar yang dialaminya menjelang mengikuti Ujian Nasional. Lalu ia berbisik pelan, namun jelas terdengar di telingaku, “Ya Allah, walaupun aku telah berusaha beribadah dengan taat dan benar kepadaMu, belajar dengan giat dan sungguh-sungguh karenaMu, menjaga kejujuranku saat mengikuti  Ujian Nasional karena aku tahu aku dalam pengawasanMu. Namun tetap Engkau takdirkan aku tidak lulus ya Allah, aku ikhlas menerimanya. Aku rela menerima ketentuanMu ya Rabbi, aku terima semuanya dengan lapang hati.”

Air mataku menetes tak terbendung. Kami bertangisan. Tangis bahagia, karena telah melewati satu fase terberat dalam hidup manusia, yaitu menerima ketentuanTuhannya dengan rela dan penuh tahu diri. Subhanallah,Nak. Ibu bangga padamu. Anakku itu tersenyum, senyum tanda kesabaran. (Penulis pimpinan Diniyyah Puteri, Padang Panjang, kutipan dari Harian Umum Singgalang, 30 Mei 2011, hal. 1).


Categories

%d bloggers like this: