Posted by: munifchatib | July 22, 2008

SUKSES ITU SEPERTI PENDAKI

Anda ingin sukses? Siapa yang tidak mau. Semua orang memimpikannya. Apalagi sukses dunia akhirat. Sukses sering dihubungkan dengan profesi seseorang. Padahal banyak hal yang mempengaruhi kesuksesan itu. Membayangkan kesuksesan seperti membayangkan kita mendaki puncak gunung. Sebab kehidupan ini pada hakekatnya seperti melangkahkan kaki mendaki gunung.

Dalam sebuah pendakian, awalnya kita membutuhkan 2 kaki untuk berdiri dan berjalan mendaki. Kaki pertama adalah kreativitas. Artinya kita harus mempunyai kebiasaan menciptakan ide dan produk-produk baru yang mempunyai nilai budaya. Kaki kedua adalah problem solving. Artinya kita harus mampu menyelesaikan masalah yang setiap hari menghampiri kita. Makin banyak masalah yang mampu kita selesaikan, kaki kita bertambah kuat untuk melangkah.

Mulailah pendakian dimulai dari lereng gunung menuju puncak. Ternyata mendaki bukan seperti melewati jalan tol yang lurus dan lenggang. Namun menempuh jalan setapak berkelok, gelap jika malam hari. Kita buth rambu dan penerang. Rambu dan penerang itu adalah pemahaman agama dan akhlak kita yang mulia. Tanpa memahami agama dan akhlah yang mulia, maka kita akan mudah diombang ambingkan oleh dunia dan tak punya arah. Akhirnya kita akan masuk jurang.

Separuh perjalanan dalam pemdakian, tenyata kita harus memanjat tebing 90 derajat. Kita harus menyeberangi sungai yang banyak buaya. Kita harus punya alat untuk melewatinya. Kita harus punya tambang untuk memanjat tebing. Kita harus punya rakit dan senapan untuk melewati sungai yang deras dan mengusir buaya. Alat-alat itu adalah keterampilan hidup. Artinya jika harus menguasai bahasa asing sebagai jendela dunia, lalu kita juga harus menguasai informasi dan teknologi, agar kita mempunyai nilai tambah yang cukup handal.

Setelah pendakian sudah di puncak, maka kibarkan bendera profesi. Jadilah pengacara, ahli ekonomi, dokter, atau ribuan profesi yang lain, namun apapun profesi anda. Jadilah seorang profesional yang kreatif, mampu menyelesaikan masalah, mempunyai akhlak yang baik, selalu mengingat Allah, dan punya keterampilan hidup menghadapi kompetisi yang sangat ketat pada masa sekarang ini. Be a Climber …


Responses

  1. Tulisan yg menarik. Tapi apa mungkin kurikulum pendidikan di negeri ini mampu melahirkan para pendaki???

    • Salam.
      Semestinya sih bisa, kuncinya pada kemauan politis elit-elit bangsa ini untuk memajukan kualitas pendidikan rakyatnya. Tanpa ada kemauan politis untuk kepentingan bersama akan sulit untuk mewujudkan.

  2. Teruslah mendaki. Tapi ingat, jika sudah sampai di puncak, bersiaplah untuk turun untuk membagi pengalaman pendakian sehingga akan lebih banyak lagi pendaki lain.

    • Salam ya akhi … Insyallah saya sudah banyak melakukan sharing information kepada hampir ribuan guru di seluruh Indonesia, terutama yang terkait dengan mulitple intlellgience stratrgi. Blog ini juga harus dimanfaat kan untuk sharing information.

  3. Ass. Pak munif saya mau tanya seputar MI & MIS yang bpk terapkan di YIMI khususnya.
    Apakah MIS itu bentuk test yang Valid?Karena kmrn sy waktu jln2 ada promo MI yg menggunakan FINGERPRINT TEST oleh PT. Amazing World Indonesia.
    Dan untuk mengetahui anak berkecenderungan tsb, apakah penerapannya berbeda-beda?
    mhn maaf sblmy trims pak

    • Memang Fingerprint test yang hasilnya adalah mengetahui kecenderungan kecerdasan seseorang tengah marak. Banyak juga para psikolog yang mempertanyakan kevalidannya. Kalau menurut saya, Fingerprint test adalah sebuah karya yang harus dihargai. Namun dasar konsep dari multiple intelligence adalah kecerdasan seseorang tersebut dapat dilihat dari kebiasaan. Kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang. Apabila perilaku tersebut belum diulang-ulang maka belum dapat dikatakan kebiasaan. Kebiasaan untuk cerdas adalah kebiasaan menyelesaikan masalah sendiri dan kebiasaan membuat karya baru. Nah … jelaskan bahwa kecerdasan itu di dapat dari kebiasaan yang selalu berubah-ubah, dinamis dan tidak statis. Problem pada fingerprint test adalah data awal di ambil dari sidik jari yang mana merupakan data statis, tetap. Tidak berubah-ubah dari bayi sampai manula. Namun demikian, tetap saya menghargai karya tersebut.


Categories

%d bloggers like this: