Posted by: munifchatib | July 29, 2008

“BEST PROCESS” – INDIKATOR SEKOLAH UNGGUL

“BEST PROCESS” – INDIKATOR SEKOLAH UNGGUL

Munif Chatib

Seorang kawan, Tom J. Parkins, yang akan menamatkan program doktoral di Harvard University meminta bantuan penulis untuk meneliti indikator-indikator sekolah unggul yang ada di Indonesia. Tentu saja penulis dibekali beberapa alat-alat riset, baik yang berupa questioner baku maupun yang harus “disesuaikan” dengan kondisi di Indonesia. Setelah bekerja sama selama 3 bulan, Tom J. Parkins memberikan kesimpulan yang luar biasa!

Indikator sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan OUTPUT.

Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:

1. Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”

Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul.

Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:

· Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).

· Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.

· Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.

· Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.

· Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.

Kritik untuk sekolah ”BEST INPUT”:

· Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.

· Sekolah ”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.

· Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang kepala sekolah sebuah SD di Surabaya tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Kepala sekolah tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja kepala sekolah tersebut tidak mampu menjawabnya.

· Kualitas guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut penelitian penulis pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak bidang studi di luar sekolah.

2. Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”

Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.

Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:

  • Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
  • Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
  • Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
  • Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.


Hasil penelitian Tom J. Perkins terhadap sekolah-sekolah di Indonesia adalah sebagai berikut:

Keterangan

Jumlah % sekolah

Kategori

INPUT

a. Best Input

99%

Sekolah biasa

b. Best Process

1%

Sekolah unggul

PROSES

a. Left Brain

99%

Sekolah biasa

b. Holistic Brain

1%

Sekolah unggul

OUTPUT

a. Cognitive Only

99%

Sekolah biasa

b. Cognitive (knowledge),

Affective (attitude),

Psychomotor (skills)

1%

Sekolah unggul

Riset ini dilakukan pada tahun 2003 dengan meneliti sebanyak 85 sekolah unggul di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah:

  • Masih sedikitnya (baca: 1%) sekolah di Indonesia yang dikategorikan sekolah unggul, baik pada komponen input, proses, dan output.
  • Paradigma sekolah unggul di Indonesia masih banyak yang harus dikoreksi dan ditata lagi, terutama pada input penerimaan siswa baru.

About these ads

Responses

  1. assalamu’alaikum.
    bpk Munif yang terhormat, saya Mukti, koresponden beberapa majalah dirjen PMPTK Depdiknas juga penggiat Majalah eduBENCHMARK di Malang, jelasnya saya merasa bangga dengan bapak. dan merasa senang membaca tulisan bapak di situs ini. dan karena di majalah eduBENCHMARK isi rubrik-rub rik banyak diambil dari artikel-artikel, dan karya-karya ilmiah maupun buku-buku maka kami juga menjadikan tulisan bapak sebagai referensi artikel kami. saat ini kami mereferensi tulisan bapak yang kriteria sekolah unggul. mohon ma’af dan terimakasih sebesar-besarnya. bapak bisa membuka situs majalah kami di http://www.edubenchmark.com.
    wassalam.

  2. Cerita-cerita sedikit donk dari negeri orang

  3. Munif.
    Saya mahasiswa Teknologi Pendidikan Ubiversitas Negeri Jakarta, pernah mengikuti Pelatihan MIR Basic di JSIT 2008.
    Saya kini sedang dalam tahapan mencari tema penelitian, dan saya tertarik untuk mendalami MIS. Penelitian saya coba fokuskan pada alternatif peminatan siswa di sekolah-sekolah negeri.
    Mohon bantuannya. Terima kasih.

  4. Saya setuju, Pak dengan uraian di atas. Meskipun angka 1% untuk sekolah unggul dengan best process masih saya ragukan. Artinya apakah populasinya sekolah negeri, swasta atau international jadi satu atau hanya sekolah negeri saja. Dan untuk level apa, SD, SMP atau SMA. Karena menurut saya kalau untuk level SD, saya duga besarnya lebih dari 1%, tapi semakin tinggi levelnya memang jumlahnya semakin sedikit karena orang tua juga bertambah pragmatis, sehingga cenderung untuk memilih sekolah yang best input karena lebih murah dan jalannya lebih mulus untuk naik ke level berikutnya hingga PTN.

    Budaya instant dan mainstream memang memaksa banyak orang berpikir pragmatis.

  5. Ass. gmn ustd kbry?menanggapi tulisan ustd tentang “best process” sbg salahsatu program perekrutan siswa disekolah, saya sangat setuju…
    karena dalam dunia pendidikan tes kognitif/nilai akademik yang bagus tidak menjamin kedepan siswa tsb bisa berhasil u/ mencapai cita-citanya.
    Saya sbg guru, terus terang tidak setuju dengan ada UNAS sbg tolak ukur kelulusan siswa, sedangkan nanti dlm mencari pekerjaan hasil UNAS bkn jaminan. Pertanyaan saya untuk ustd Munif : Kapan sekolah yang ustd rintis sprt di YIMI bisa menyeluruh di seluruh Indo, khususnya di Gresik.
    Ktnya ustd menerbitkan buku baru, boleh donk saya punya. apalagi gratis?


Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 116 other followers

%d bloggers like this: