Posted by: munifchatib | November 19, 2012

Multiple Intelligences Menurut Prespektif Munif Chatib

MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PERPEKTIF MUNIF CHATIB

By Munif Chatib

Sungguh bahagia rasanya, kala seorang sahabat memberikan ulasan terhadap teori multiple intelligence menurut sudut pandangnya. Jika boleh berbagi saya juga terangsang untuk mengulas tentang makhluk apakah multiple intelligences itu, yang diyakini mempunyai keberagamanan penafsiran banyak orang.

  • Paradigma multiple intelligences itu harus dibuktikan dengan fakta, bukan dengan teori.

Ketika Gardner tahun 1983 di Harvard University memunculkan teori mi, banyak pakar kecerdasan membantahnya. Sahabat saya mencoba membuat list tentang para pakar yang tidak setuju dengan teori mi ini. Ada Ken Richardson yang bilang kalau keunggulan manusia itu memang sudah ada dari ‘sononya’. Ada Francine Smolucha yang bilang Gardner dan Mi-mnya kurang data. Ada Goerge Miller yang bilang mi tidak memiliki ‘evidence’ yang kuat dan pemborosan waktu. Sahabat saya sendiri bilang MI itu  istilah kebetulan saja pengganti istilah ‘talent’, dan tidak di dukung bukti yang kuat. Dan seterusnya dan seterusnya.

Menurut saya, MI adalah sebuat teori kecerdasan yang sangat terbuka dan menghargai potensi individu sekecil apapun. Seseorang mempunyai MI jika dalam aktivitasnya sudah memunculkan prestasi yang mempuyai benefit (daya manfaat), sekecil apapun itu. Saya pikir teori ini sangat menghargai manusia sebagai ciptaan Sang Maha Agung. Allah SWT tidak pernah memproduksi produk-produk gagal. Malah saya mendapat banyak bukti sebagai fakta, banyak anak yang mempunyai hambatan, ketika MI-nya di hargai dan terus dipantik, maka anak itu menjadi JUARA di bidangnya masing-masing.

Saya berusaha memunculkan bukti-bukti ini dalam buku saya yang ke-3 ORANGTUANYA MANUSIA, semoga sahabat saya membaca buku ini. Walhasil kalau teori di lawan dengan teori tidak akan ada habisnya. Paradigma baru harus menghadirkan fakta. Saya dan banyak orang yang mempunyai fakta, bahwa setiap manusia mempunyai keunggulan. Dalam perspektif saya, itulah teori MI. Jika kita tidak percaya setiap orang mempunyai keunggulan, meskipun sekecil debu, wow ini bahaya, sebab kita akan banyak masuk dalam jebakan-jebakan semu dalam arti selalu memandang rendah orang sebab tidak memiliki kemampuan. Padahal kemampuan itu ada, hanya belum terlihat saja.

Saya juga berusaha menempatkan teori dan kritik dalam sebuah teori dalam tatanan ADIL. Saya juga belajar tentang teori-teori yang tidak sepakat dengan teori MI. Namun saya juga belajar dari buku-buku teori yang ditulis Howard Gardner, asyik gitu ketika hati kita lapang untuk belajar banyak masukan, antara lain: 1. Frames of Mind; 2. Responsibility at Work 3. Five Minds for the Future; 4. Howard Gardner Under Fire; 5. M.I. – New Horizons; 6. Development and Education of the Mind; 7. Changing Minds; 8. Making Good; 9. The Disciplined Mind; 10. Intelligence Reframed; 11. Extraordinary Minds; 12. Leading Minds; 13. Multiple Intelligences; 14. Creating Minds; 15. The Unschooled Mind; 16. Art Education and Human Development; 17. To Open Minds; 18. The Minds New Science; 19. Art, Mind & Brain; 20. Artful Scribbles:Developmental Psychology; 21. The Shattered Mind; 22. The Arts and Human Development; 23. The Quest for Mind;  24. Good Work; 25. Practical Intelligence for School Intelligence; 26. Man and Men

  • Multiple Intelligences itu adalah strategi mengajar

 Sahabat saya bilang bahwa “Teori MI ini tidak dapat digunakan di dalam ruang kelas, sebab kita tidak bisa paksakan kurikulum yang ada untuk diterapkan dengan menggunakan MI, sebab waktu yang dibuthkan sangat lama, sementara kurikulum kita sudah terjadwal waktunya.”

Menurut saya, MI dalam wilayah akademis atau kelas bentuknya menjadi strategi mengajar. Bagaimana para guru memberikan stimulus yang tepat sesuai dengan MI siswanya. Jika berhasil, maka tidak ada pelajaran yang sulit buat siswa. Strategi mengajar adalah bagaimana cara guru menyampaikan ilmunya dengan pola-pola pendekatan sesuai dengan gaya belajar siswa. Jadi strategi mengajar MI itu lebih menitik beratkan bagaimana siswa belajar, bukan bagaimana guru mengajar. Strategi ini jumlahnya sangat banyak. Saya memunculkan 20 strategi mengajar dalam buku saya yang ke2 GURUNYA MANUSIA. Insyaallah Februari 2013, saya akan menulis lagi khusus strategi mengajar MI ini sebanyak 200 lebih. Saya sebagai guru malah mendapatkan pengalaman berbeda dengan ketakutan sahabat saya tentang kurikulum dan lambatnya waktu. Sebagai contoh sederhana, saya dengan beberapa guru menggunakan strategi sosio drama untuk mengajar sejarah kebudayaan Islam, tentang Perang Gajah. Strategi sosio drama adalah strategi yang mempunyai pendekatan MI lingustik, intrapersonal, dan kinestetis. Ada 6 kelas yang menggunakan stategi sosio drama. Ada siswa yang menjadi Abrahah, Abdul Muthollib, kurir, gajah-gajah, sedangkan siswa yang tidak kebagian peran diberikan pertanyaan-pertanyaan. Mereka dapat menginterupsi pemainnya. Sangat menyenangkan sekali suasana dalam kelas itu. Satu kali pertemuan adalah 2 x 40 menit, artinya total 80 menit. Yang dahsyat adalah materi itu selesai dalam satu kali tatap muka. Padahal dalam silabusnya 3 kali tatam muka, hebat 2 kali tatap muka. Ketika ada ujian nasional dari diknas dua bulan kemudian, saya menggunakan kesempatan itu melakukan riset. Ternyata ada 2 nomor soal yang berkaitan dengan materi perang gajah, yaitu:

1.   Siapakah gubernur Yaman yang akan menghancurkan Ka’bah?

       a.Abrahah   b. Abdul Mutholilb  c. Abu Jahal  d. Abu Tholib

2.   Siapkah yang menjadi pemimpin Ka’bah pada perang Gajah?

       a. Abrahah   b. Abdul Mutholilb  c. Abu Jahal  d. Abu Tholib

Hasil riset saya mengejutkan, dari 6 kelas, 112 siswa, semuanya menjawab benar 2 nomor ini. Tidak ada yang salah. Ketika satu persatu siswa saya tanya, kenapa dua nomor ini benar. Rata-rata mereka menjawab sangat ingat soal ini sebab dulu yang menjadi Abrahah dan abdul Mutholibnya adalah teman-temannya. Saya juga bertanya kepada seorang siswa penyandang ‘Learning Disability’ tentang betapa hebatnya dia menjawab benar dua soal itu. Saya kaget mendengar jawabannya.

“Aku ingat, yang jadi Abrahah itu si Lala, teman satu bangku. Ingat aku …ingat aku,” jawab siswa ini meskipun dengan terbata-bata.

Aku ingat! Ini artinya masuk dalam long term memory. Wow tiba-tiba strategi sosio drama, sebagai salah satu dari ratusan strategi MI berhasil menyelesaikan soal-soal kognitif ujian nasional. Semua siswa paham. Hasil riset itu menjawab pertanyaan sebagian besar guru tentang salah pahamnya teori MI waktu ditarik dalam dunia kelas. Lalu riset ini menjawab juga was-was guru tentang tidak selesainya waktu yang ada pada silabus jika mengajar menggunakan strategi yang cenderung ‘student center’. Lihatlah dalam silabus tertera 3 kali tatam muka, dengan strategi MI dapat selesai dengan 1 kali tatap muka. Riset ini juga menjawab, strategi MI tidak hanya berpihak kepada siswa yang lamban, siswa yang cerdaspun difasilitasi. Strategi MI for all student, pokoknya masih ‘MANUSIA’.

Terakhir, saya menyimpulkan MI itu bukan kurikulum. Kurikulum itu sebuah perencanaan yang mempunyai tujuan. MI dalam dunia akadermis adalah bagaimana cara menjalankan kurikulum  tersebut agar tujuannya tercapai. Bentuk nyatanya adalah strategi mengajar yang sangat multiple, dengan metode tunggal yaitu CERAMAH ‘ILA YAUMIL QIYAMAH’. Selamat untuk menemukan jutaan bukti bahwa anak kita hebat, daripada tenggelam dalam kritik teori-teori kecerdasan yagn memusingkan kepala dan tidak berdampak apapun buat perkembangan anak kita. Ayo temukan MI anak kita. Galilah meskiupun itu hanya sebutir debu. Anak kita adalah BINTANG. Sebab pasti ada jutaan hikmah, untuk apa dia LAHIR dan ADA buat kita.

Posted by: munifchatib | November 16, 2012

“Kognitif” antara Tes Standart VS Tawuran Pelajar (PART 2)

KOGNITIF ANTARA TES STANDAR DAN TAWURAN PELAJAR
Bagian 2
By Munif Chatib

Menurut psikologi perkembangan kemampuan anak kita diyakini seluas samudera, yaitu psiko-afektif, psiko-motorik, dan psiko-kognitif. Ketika 3 ranah kemampuan ini dibandingkan satu dengan yang lain, maka banyak pendapat yang beredar.

Menurut saya, 3 ranah kemampuan ini seperti lorong yang mempunyia 3 pintu yang harus dilewati oleh anak kita. Jika lorong yang memiliki tiga pintu ini mampu dilewati anak kita, maka anak kita dapat dikatakan mampu atau cerdas. Pintu pertama adalah psiko-afektif, yaitu respon. Jika tidak ada respon maka anak kita tidak mungkin asyik atau tertantang untuk mempelajari sesuatu. Lalu kala psiko-afektif dipenuhi, maka anak kita akan berusaha menunjukkan dirinya mampu dengan berani tampil (performance), tentunya yang ditampilkan adalah produk hasil kreativitasnya. ‘Performance’ dan kreativitas itu adalah pintu kedua, yaitu psiko-motorik. Jika sebuah produk muncul di depan kita, maka akan muncul jutaan pengetahuan atau tantangan psiko-kognitif pada produk tersebut.

Jadi kesimpulannya, 3 ranah kemampuan ini sangat penting dalam proses belajar di sekolah. Tidak ada satu atau dua ranah kemampuan yang dianak tirikan. Jika sekolah tidak mementingkan kognitif, maka ibaratnya anak kita masuk lorong, namun tidak bisa keluar sebab pintu ketiganya belum terbuka.

Bahkan Howard Gardner, penemu teori kecerdasan multiple intelligence, mengatakan bahwa kecerdasan anak kita itu dapat dilihat dari kebiasaan yang mempunyai dua akar kaki.
Pertama, kebiasaan anak kita menciptakan produk-produk baru yang mempunyai nilai budaya (kreativitas). Dan kedua, kebiasaan anak kita menyelesaikan masalahnya sendiri (problem solving). Menurut saya, kreativitas itu mewakili kemampuan psiko-motorik dan problem solving itu mewakili kemampuan psiko-kognitif. Jadi kata siapa sekolahnya manusia tidak mementingkan kognitif.
Yang sering menjadi masalah adalah penyempitan makna kognitif yang luas. Kognitif yang secara luas diartikan sebagai ‘problem solving’ tiba-tiba secara formal diartikan dengan tes standart, try out, ujian nasional dan tes-tes tertutup lainya.

Selama orde baru dan orde reformasi, sistem pendidikan di negeri ini masih menitik beratkan pada kognitif dalam arti sempit, bukan kognitif dalam arti luas. Hasil akhir dari proses pembelajaran masih diwakili oleh tes standar di akhir tahun. Sehingga sekolah untuk mencapai hasil tes yang baik, nilai TOEFL yang tinggi. Ketika ditanya bukankah HAL ITU YANG TERJADI DI MASYARAKAT, dan KITA HARUS MENGIKUTI KEBUTUHAN MASYARAKAT ITU. Maka saya jadi berpikir ulang. Masyarakat yang cerdas hari ini adalah, masyarkat yang melihat kenyataan bahwa betapa banyak pelajar, mahasiswa, bahkan yang sudah sarjana sangat ‘minim’ kemampuannya dalam ‘problem solving’. Padahal kita sepakat kemampuan ‘problem solving’ itu adalah kognitif dalam arti sesungguhnya. Tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, membengkakkan anggaran negara untuk kepentingan pribadi dan lain-lain.

Semua itu adalah bukti kegagalan pendidikan yang menitik beratkan ‘kognitif sempit’. Fakta yang terjadi adalah ketidak mampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah adalah biang penyebab semua kerusakan dalam keluarga dan masyarakat. Mungkin pelajar yang tawuran bahkan saling membunuh mempunyai nilai rapor kognitif yang tinggi. Mungkin saja, namun faktanya kemampuan kognitif mereka dalam menyelesaikan masalahnya sangat rendah.

Menurut saya, masyarakat cerdas sekarang sudah memotret kejadian ini sebagai kritik kepada sistem pendidikan yang hanya mementingkan tes standar namun bukan tes problem solving. Jika ada sekolah, apapun jenjangnya, masih menomor satukan kognitif yang sempit, maka hari ini, 1 tahun lagi atau 10 tahun lagi pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat pada zamannya.

Pastilah tes standar 10 – 2 =
a) 8 b) 7 c) 6 d) 5, akan ditinggalkan jauh-jauh. Sekolah yang cerdas akan memunculkan problem solving pada setiap tesnya. Bandingkan dengan di bawah ini.
Jika seorang peternak ayam mempunyai 10 ekor ayam, lalu malam itu dua ekor ayam dimakan tikus. Tinggal berapa ekor ayam tersebut?

Jika seorang kepala sekolah, seorang rektor, atau seorang menteri pendidikan membuat KEBIJAKAN karena KEWENANGANNYA, tentang fungsi UJIAN NASIONAL adalah untuk pemetaan kualitas pendidikan setiap distrik, sedangkan yang berhak penuh meluluskan siswanya adalah SEKOLAH masing-masing. Atau semua jenis-jenis tes sebagai persyaratan administrasi untuk masuk di sebuah sekolah, misalnya tes TOEFL, tes kepribadian, riset multiple intelligence, tes SAT, dan lain-lain berfungsi untuk ‘DATABASE’ siswanya. Sedangkan yang terpenting adalah bagaimana semua siswa dapat berhasil belajar untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat. Jika KEBIJAKAN + KEWENANGAN = LEGITIMASI, maka paradigma konsumen pendidikan akan berubah juga.

Kesimpulan sementara, harapan orangtua mestinya harus adil melihat perkembangan zaman untuk anak-anaknya. Zaman sekarang membutuhkan anak-anak kita yang mahir kognitif dalam arti luas, yaitu problem solving. Saya sependapat bahwa keinginan orangtua, si anak dan sekolah harus dihargai dan menemukan kesamaan paradigma tentang bagaimana anak kita akan sukses dunia akhirat pada masanya nanti. Menghadapi saman yang makin lama makin sulit.
Dalam artikel berikutnya, saya akan mencoba memerinci detail beda antara tes standar dan tes problem solving. Hidup kognitif!!!

Bersambung ….

Posted by: munifchatib | November 12, 2012

Kognitif, Siapakah kamu??? Part 1

KOGNITIF SIAPAKAH KAMU BAGIAN 1
By Munif Chatib

Sedihnya ketika orangtua bilang:
“Percuma aku sekolahkan anakku di SEKOLAHNYA MANUSIA. Sekolah itu hanya konsentrasi untuk anak-anak yang bermasalah. Sedangkan anakku yang awalnya pandai, akhirnya harus mengikuti arus anak yang lamban. Padahal rencananya selesai lulus aku akan masukkan di SMA Favorit yang ketat sekali seleksinya. Mana mungkin anakku berhasil lulus tes masuk SMA favorit itu jika tidak ada peningkatan nilai hasil try out-nya.”

Lalu diskusi cukup panjang terjadi. Terkadang saya harus menjadi orangtua tersebut, terkadang saya harus menjadi guru, juga harus menjadi kepala sekolah dan sekaligus penyelenggara sekolah. Lama sekali saya merenungi apa yang dikuatirkan oleh oranng di atas. Bagi saya, orangtua siswa itu adalah konsumen pendidikan. Harus dihargai pendapatnya. Tepat setelah 4 hari berdiskusi dengan banyak pihak yang berkompeten di bidangnya. Akhirnya saya dapat menyimpulkan pokok masalahnya, yaitu makhluk yang bernama KOGNITIF. Saya harus membuat semacam ‘HEAD LINE’ terhadap pernyataan di atas.
1. Sekolahnya Manusia hanya berkonsentrasi pada anak-anak yang bermasalah.
2. Anak pandai akan mengikuti anak yang lamban dalam belajar.
3. Keinginan masuk SMA Favorit dengan seleksi ketat.
4. Nilai hasil try out.
Ya, ada 4 HEAD LINE. Hasil diskusinya sebagai berikut:

KOGNITIF DAN MENUJU SEKOLAH INKLUSI

Dalam perkembangannya semua sekolah di dunia ini menuju ke sekolah inklusi. Sudah banyak contoh di negara-negara yang hebat kualitas pendidikannya, misal Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan lain-lain. Pemahaman dasar dari sekolah inklusi adalah EDUCATION FOR ALL. Tidak membedakan anak bodoh dan pandai, anak reguler dan berkebutuhan khusus. Jika ada sekolah yang memisahkan anak pandai dan bodoh dalam kelas yang lain, menurut Thomar Armstrong Ph. D. adalah patologi (penyakit) pendidikan. Setelah diteliti, ternyata sekolah inklusi menjadi wadah munculnya siswa-siswa yang mempunyai karakter kuat dalam kepedulian pada sesama, saling membantu dan menyadari tentang perbedaan yang ada. Siswa yang lulus dari SEKOLAHNYA MANUSIA melihat masyarakatnya sebagai masyarakat yang heterogen. Insyaallah lulusannya jika menjadi PEMIMPIN akan berbuat adil kepada yang dipimpinnya. Bukankah keadilan itu adalah maqom sebuah kemampuan yang paling tinggi, yang harus dimiliki seseorang? Pasti setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi pemimpin yang adil, minimal untuk dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dengan teman-temannya yang lamban dalam menangkap dan menguasai pelajaran? Dalam prakteknya, siswa-siswa yang pandai akan menjadi tutorial sebaya bagi teman-temannya. Ada orangtua yang kaget ketika nilai tes atau try out anaknya jatuh atau tidak seperti yang diharapkan.

Percayalah kemampuan seseorang itu seluas samudera. Ada psiko-afektif, psiko-motorik dan psiko-kognitif. Kepedulian dan saling membantu antar siswa dalam hal proses belajar bukanlah sebuah dosa. Sebab hal itu mengasah kemampuan psiko-afektif yang sering dianggap tak berguna. Padahal kemampuan psiko-afektif dalam hidup bermasyarakat sangat penting dan menjadi hal utama terkait dengan kesuksesan seseorang.

Sungguh sebenarnya tidak ada hubungannya antara hasil tes atau try out ujian yang rendah dengan kondisi kelas yang beragam atau inklusi. Tes atau try-out ujian itu hanya sebagian kecil dari kemampuan psiko-kognitif. Dan dalam kemampuan kognitif, tes standar itu masuk lantai yang paling bawah yaitu lantai pengetahuan. Betapa banyak data yang menggambarkan bahwa hasil try out tidak berbanding lurus dengan hasil ujian nasionalnya.
Saya melihat banyak orantua yang terjebak menilai kemampuan anaknya hanya dari hasil tes kognitif saja. Hal ini berbahaya, sangat tidak adil pada anak kita. Percayalah kemampuan anak kita seluas samudera. Sekolah inklusi, sekolahnya manusia adalah sekolah yang menghargai kemampuan anak kita yang sangat luas dari berbagai ranah kompetensinya.

Bersambung …

TERUS JANGAN MENYERAH PENGAJAR MUDA
By Munif Chatib

Kalimat yang tepat adalah dari desa ke kota. Setelah satu tahun mengabdi di daerah-daerah terpencil untuk mengajar. Kini enam orang pengajar muda berbagi inspirasi kepada guru-guru SD Neg

eri di lima titik di Surabaya. Saya bersama dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya menyelenggarakan program pelatihan dan pendampingan guru-guru SD Negeri sampai bulan Desember 2012 mendatang dan menggandeng beberapa alumni pengajar muda angkatan 1 dan 2.

Memang diantara semangat berbagi yang menyala-nyala ada sebuah perasaan was-was untuk memberikan pelatihan kepada para guru. Betapa tidak, dari sisi usia, para guru sudah seusia seperti orangtua sendiri. Ada perasaan tidak enak ‘melatih’ orangtua sendiri. Lalu dalam jam terbang mengajar, banyak yang 20 tahun lebih mengajar. Ada rasa was-was mereka takut ‘tidak diterima’ oleh para guru negeri di Surabaya. Namun alhamdulillah, semua tim yang berjumlah 12 orang sebelumnya sudah bertemu dengan semua bapak/ibu kepala UPTD dan pengawas SD di seluruh Surabaya.

Dalam acara perkenalan itu, alhamdulillah mereka semua mendukung untuk menyukseskan program ini. Sebab kepala UPTD dan pengawas adalah pihak yang penting untuk memberikan ‘penguatan’ kepada para guru. Tanpa penguatan dari mereka, program ini sulit untuk berjalan.

Dalam rapat sebelum tim kami terjun memberikan pelatihan, kami semua berdoa agar rasa was-was ini dihilangkan Allah SWT. Kami semua berdoa, semoga sampai Desember nanti, semua program berjalan lancar. Semoga semua Kepala UPTD dan Pengawas mendukung kami. Memberikan penguatan positif, bahwa kami hadir untuk berbagi demi majunya pendidikan di Surabaya. Semoga semua Kepala UPTD dan Pengawas terus mengawal kami melaksanakan tugas. Memberikan kata sambutan kepada para guru, bahwa kami hadir untuk berbagi informasi, tidak menggurui. Memberikan semangat kepada para guru, bahwa guru adalah profesi yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Sebab sekali guru berhenti atau malas belajar maka ada penyakit sombong yang langsung menyerang hati para guru. Memberikan pernyataan postif bahwa belajar dapat dari mana saja dan oleh siapa saja. Meskipun dari anak-anak yang usianya masih muda belia. Sungguh kami hanya punya niat baik untuk berbagi.

Alhamdulillah ternyata rentetan doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Di semua titik pelatihan, kepala UPTD dan Pengawas sangat mendukung dan mengayomi kami semua, terutama anak-anak muda yang bersemangat ini. Semua guru memberi respon positif. Semoga terus terjaga. Amin. Terima kasih ya Allah …

Posted by: munifchatib | October 21, 2012

Empat Buku Seperti Aliran Air

EMPAT BUKU SEPERTI ALIRAN AIR

By Munif Chatib

SEKOLAHNYA MANUSIA, buku yang saya tulis 2009 itu seperti sebuah piring. Buku itu bercerita tentang sederhananya konsep SEKOLAHNYA MANUSIA yang mempunyai 3 bagian, yaitu:

Pertama INPUT, SEKOLAHNYA MANUSIA menerima siswa dalam berbagai kondisi. Siswa pandai, baik, nakal, bodoh dan anak berkebutuhan khusus. SEKOLAHNYA MANUSIA selalu menuju sekolah inklusi.

Kedua PROSES, SEKOLAHNYA MANUSIA menerapkan ‘The Best Process’. Maksudnya guru menerapkan multi strategi dalam mengajar. Tidak hanya ceramah sebagai metode tunggul.

Ketiga OUPUT, SEKOLAHNYA MANUSIA memotret kemampuan siswanya dalam 3 ranah besar, yaitu kognitifnya, psikomotorik dan afektif.

Jujur, untuk mewujudkan SEKOLAHNYA MANUSIA membutuhkan satu elemen yang harus sama paradigmanya yaitu GURU. Oleh karena itu buku ke dua saya adalah GURUNYA MANUSIA.

GURUNYA MANUSIA, buku yang saya tulis 2011 berusaha sekuat mungkin berbagi informasi betapa banyak sebenarnya strategi mengajar. Ada 20 strategi mengajar. Lalu bagaimana strategi mengajar tersebut ditulis dalam sebuah ‘lesson plan’. GURUNYA MANUSIA kental sekali dengan nuansa guru harus kreatif, harus terus belajar dan menjadi ‘penyelam’ bagi semua siswanya. Ibaratnya GURUNYA MANUSIA adalah isi dalam sebuah piring SEKOLAHNYA MANUSIA. Ketika dalam SEKOLAHNYA MANUSIA ada GURUNYA MANUSIA, ternyata masalah belum selesai. Masih ada ORANGTUA siswa yang menjadi konsumen pendidikan sebuah sekolah. Banyak terjadi masalah, terutama hubungan dengan sekolah jika paradigma orangtua belum sama dengan sekolah.

ORANGTUANYA MANUSIA, buku yang saya tulis 2012 ini seperti menjadi ‘petunjuk’ sederhana bagi orangtua, terutama bagaimana memandang pendidikan anak-anaknya. Memandang kemampuan anak kita yang seluas samudera dan bintang. Bagaimana hubungan orangtua dengan guru anak-anaknya. Guru dan orangtua harus menjadi sahabat sejati. Jika orangtua dan guru bekerja sama dalam membantu anak untuk belajar, maka anak tersebut akan menjadi juara. Anak itu akan menemukan kondisi terbaiknya.

SEKOLAH ANAK-ANAK JUARA, yang saya tulis juga di tahun 2012 bersama sahabat saya Alamsyah Said, sperti m,enjadi bukti otentik. Jika seorang anak bersekolah di SEKOLAHNYA MANUSIA, lalu dididik oleh GURUNYA MANUSIA, di rumah ada ORANGTUANYA MANUSIA, maka Insya Allah anak tersebut menjadi JUARA di bidang masing-masing. Sukses dunia akhirat.

Saya sekarang sedang menulis buku berikutnya yang membahas tentang KELASNYA MANUSIA bersama sahabat saya Irma Nurul Fatimah, seorang GURUNYA MANUSIA yang arsitek. Kita bersua percaya sebenarnya dinding-dinding kelas baik indoor maupun outdoor bisa menjadi asisten guru. Bahkan sampai puluhan asisten. Mohon doa semua sahabat, agar kami berdua diberikan kesehatan dan waktu yang cukup untuk berbagi lewat karya tulis. Terima kasih

BERTEMU PENGAWASNYA MANUSIA
By Munif Chatib

Betapa banyak guru yang ambil jalan pintas untuk membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau lessonplan dengan jalan membeli CD yang isinya RPP sebuah mata pelajaran dalam jenjang tertenu

untuk semua KD dalam satu tahun. Ketika saya tanya, jawabnya dahsyat:

“Ya Pak Munif, biar praktis dan cepat, jika ada pengawas tinggal diprint. Pengawas paling hanya melihat sepintas. Formatnya sudah sesuai, langsung ACC. Kenapa repot-repot. Malah teman guru yang membuat RPP sendiri banyak pertanyaan macam-macam.”

“Lalu apa RPP yang diserahkan pengawas tadi anda praktekkan di kelas?” tanya saya.
“Ya Gak lah … isinya saja saya gak baca. Hanya harus teliti mengganti nama, asal sekolah dan nama kepala sekolah. Kalau di kelas ya saya ngajar saja dengan cara saya sendiri.”
“Nah itu, apa cara anda sendiri itu dibuat RPP-nya?” tanya saya lagi penasaran.
“Ya gak lah … ngapain repot-repot. Toh saya sudah punya CD-nya,” jawabnya polos tanpa beban.

Saya hanya mengelus dada, berarti teman saya ini sebenarnya tidak membuat RPP, hanya ‘copy paste’ saja dari CD, lalu diganti namanya dan nama sekolahnya untuk kebutuhan pengawas. Selang beberapa waktu saya bertemu dengan beberapa pengawas. Ketika saya diskusikan hal ini, saya mendapatkan pengalaman yang berharga. Mereka tertawa ketika saya katakan harus hati-hati melihat RPP guru, banyak yang ‘copy paste’ saja.

“Pak Munif, kami mengetahui hal itu. Tahu sekali. Apalagi kami juga mempunyai beberapa CD contoh format RPP dari semua bidang studi. Kami tahu sekali. Namun, yang kami perhatikan, sebenarnya banyak guru yang mau mencoba membuat RPP sendiri. Hanya saja mereka takut salah dengan formatnya yang baku. Akhirnya mereka ‘copy paste’.
Kami tahu juga kalau sebenarnya format RPP itu banyak modelnya, yang penting adalah isinya. Jika kami bertemu guru dan melihat RPP-nya, kami selalu bilang ‘Jangan takut salah’. Yang penting membuat sendiri dan dilaksanakan di kelas. Sebenarnya yang salah itu adalah guru yang tidak membuat RPP. Itu saja. Sedangkan masalah format itu urusan berikutnya. Tugas kami yang harus mengayomi mereka. Pokoknya buat dulu. Kami tahu persis budaya membuat perencanaan mengajar itu masih belum terbangun dengan baik pada guru-guru kita. Karena itu, kita permudah dulu mereka dengan menulis apa yang akan mereka ajarkan dalam RPP. Mau menulis, itu sudah bagus.”

Wow … Alhamdulillah ya Allah, hari itu aku dipertemukan dengan PENGAWASNYA MANUSIA. Semoga terus menjamur sebagai kekuatan yang dahsyat membangun kualitas pendidikan Indonesia.

MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?

By Munif Chatib

 

“Pak Munif, anakku ‘gila; sama games, gimana cara menghentikannya?”

“Pak Munif, anakku bilang: ‘TV is my life!”

Betapa banyak kegalauan orangtua melihat anak-anaknya tersihir oleh games dan TV. Ketika saya tes ke teman-teman saya yang rata-rata berumur 40-an, untuk main games bola dengan play station, ternyata mereka yang sudah jadi orangtua juga tersihir oleh games bola tersebut. Sampai-sampai lupa makan malam, lupa kalau di rumah ada sang isteri dan anak yang menunggu. Berarti boleh dong saya pakai judul artikel di atas: MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?

 Jawabnya ternyata sederhana, yaitu ternyata TV dan GAMES itu mempunyai modalitas tertinggi yang disukai oleh otak kita. Dengan kata lain wajar, banyak orangtua dan anak yang suka games. Lalu apa yan gsimaksud dengan modalitas otak itu?

Secara sederhana modalitas itu adalah jalan informasi masuk ke otak kita. Ada beberapa teori yang menjelaskan modalitas ini, yang terkenal adalah teori dari Dr. Venon Magnesen dari Texas Universitas. Ternyata hasilnya jalannya informasi yang masuk ke otak mempunyai kualitas yang berbeda-beda dalam hal penyerapan informasinya.

  • Jika informasi didapat dengan cara MEMBACA, mempunyai kualitas ingatan hanya 20%.
  • Jika dengan MENDENGAR, kualitas ingatannya 30%.
  • Jika dengan MELIHAT, kualitas ingatannya 40%.
  • Jika dengan MENGUCAPKAN, kualitas ingatannya 50%.
  • Jika dengan MELAKUKAN, kualitas ingatannya menjadi 60%.
  • Jika dilakukan dengan meLIHAT, MENGUCAPKAN, MENDENGAR, dan MELAKUKAN, kualitasnya sampai 90%.

Bobbi de Porter dalam bukunya Quantum Teaching, juga membahas modalitas ini dengan istilah VAK, Vidual, Audio dan Kinestetis. Hasilnya sama, modalitas tertinggi itu adalah kinestetis atau dengan melakukan. Sekarang perhatikan makhluk yang bernama TV atau GAMES. Ternyata dua makhluk ini menggunakan modalitas tertinggi dengan kualitas terbaik. TV dan GAMES adalah media visual yang bergerak, jika ada audionya, dahsyat. Suara bom yang menggetarkan jantung. Lengkingan tangisan dan lain-lain. Visual tersebut tidak diam, namun bergerak. Apalagi jika menggunakan tiga dimensi. Wow pasti lebih heboh. Kita diajak ikut serta, baik fisik maupun emosi. Pasti kita merasakan tak puas, perasaan kalah jika memang kalah dalam bermain GAMES. Ada emosi terpantik di dalamnya. Dan itu semua sangat disukai oleh otak kita dan anak kita. Ibarat jalan tol, TV dan GAMES menyuguhkan informasi dengan menggunakan jalan tol yang paling lancar, cepat, tidak macet untuk sampai ke otak kita.

Nah itulah penyebab mengapa kita dan anak-anak sering tersihir oleh TV dan GAMES. Memang hal yang wajar, sebab otak kita menyukai apa yang disuguhkan oleh dua makhluk itu. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana tiba-tiba TV, GAMES dan MEDIA yang lain membawa dampak negatif dalam kehidupan anak-anak kita. Hal itulah yang harus diteliti dengan fokus dan dicarikan jalan keluarnya. Minimal dengan pemahaman kita tentang modalitas, kita sebagai orangtua dan guru sekarang mengetahui jika informasi disampaikan dengan audio, percayalah informasi tersebut lama sekali sampai ke otak kita dan anak kita. Jadi yang harus dibudayakan adalah mengajak ikut serta anak dalam memahami apapun dengan ‘DO IT’, atau ‘LAKUKAN SAJA’. Kita harus mengalahkan kekuatan modalitas pada GAMES dan TV. Semoga bermanfaat.

Posted by: munifchatib | October 15, 2012

Pemahaman yang mudah mengenai Pembelajaran Tematik

APA ITU PEMBELAJARAN TEMATIK?

By Munif Chatib

Seorang sahabat, kebingungan dengan pembelajaran tematik, apa maksudnya dan bagaimana mempraktekkannya? Mungkin banyak teman-teman guru juga bingung. Jujur saya dulu sebenarnya juga bingung. Betapa tidak, sedikit sekali referensi tentang hal ini. Dan juga ada beberapa pemahaman yang berbeda. Apalagi referensinya kebanyakan dari buku asing, yang belum diterjemahkan. Lengkaplah kepusingan kita. Saya kebetulan mengajar materi pembelajaran tematik di kuliah Guardian Angel (GA). Namun saya buat mudah, baik pemahaman maupun prakteknya. Beginilah ceritanya.

Menurut saya, dalam penerapan sebuah kurikulum, ada bagian yang bernama MATERIAL KURIKULUM atau ISI KURIKULUM. Nah Material kurikulum ini, ternyata mempunyai tiga bagian. Bagian pertama adalah TEMA LEPAS. Tema lepas adalah tema-tema yang diajarkan kepada siswa secara bebas dan acak dengan maksud siswa memahami tema tersebut dan benar-benar dibutuhkan oleh siswa. Biasanya tema lepas itu diterapkan di PAUD dan TK. Contoh tema tentang air, kendaraan, anggota tubuh, makanan dan lain-lain. Pokoknya satu sama lain lepas, tidak terkait.

Bagian kedua dari material kurikulum adalah BIDANG STUDI. Bidang studi adalah kodifikasi dari tema-tema lepas yang mempunyai karakteristik khas dan sama. Contoh bidang studi matematika adalah kumpulan atau kodifikasi dari tema-tema lepas yang berhubungan dengan angka, ruang dan lain-lain. Demikian juga bidang studi biologi dan seterusnya. Biasanya BIDANG STUDI diterapkan pada jenjang SD, SMP, SMA dan seterusnya. BIDANG STUDI biasanya tersusun dari beberapa bab yang saling berurutan dalam tingkat kesulitannya.

Bagian ketiga adalah TEMATIK STUDI. Namanya gabungan dari TEMA dan BIDANG STUDI. Apa maksudnya? TEMATIK STUDI adalah TEMA GLOBAL yang ‘up to date’ atau masa kini atau yang sedang banyak dibicarakan orang. TEMA GLOBAL tersebut harus didekati terlebih dahulu dengan beberapa BIDANG STUDI DASAR. Contoh tema kekinian tentang KORUPSI. TEMA GLOBAL KORUPSI jika diajarkan kepada siswa dengan tematik studi, maka harus didekati dengan beberapa bidang studi dasar, yaitu misalnya bidang studi agama, sosiologi, dan lainnya. TEMA GLOBAL POLUSI, harus didekati dengan bidang studi Geografi, kimia, fisika, dan lainnya. Berarti jika kita memilih TEMATIK STUDI, maka siswa harus sudah memahami dengan baik BIDANG STUDI yang dijadikan pendekatan TEMA GLOBAL. Siswa akan menemui kesulitan jika pada saat belajar POLUSI belum memahami bidang studi geografi atau fisika misalmya. Karena itulah TEMATIK STUDI biasanya dibuat pada kelas-kelas atas. Harapannya adalah pada jenjang atas sudah dibekali bidang-bidang studi dasar yang terkait.

 Nah jika pertanyaannya adalah bagaimana pembelajaran tematik itu? Maka jawabnya adalah jika yang dimaksud pembelajaran tematik itu adalah MATERIAL KURIKULUM, maka jawabnya adalah pembelajaran tematik itu adalah TEMATIK STUDI, seperti yang sudah saya jelaskan di atas.

Namun, jika pembelajaran tematik yang dimaksudkan adalah WEB, maka hal tersebut termasuk dalam MODEL KURIKULUM.

Model Kurikulum ada dua bagian, yaitu MODEL KURIKULUM KLASIK dan MODEL KURIKULUM TERPADU. Model klasik hanya satu saja yang FRAGMENTED atau terpisah-pisah, artinya antar bidang studi diajarkan terpisah, atau sendiri-sendiri dan tidak terkait. Sedangkan MODEL TERPADU mempunyai 9 model, salah satunya adalah WEB.

Nah antara WEB dengan TEMATIK STUDI inilah yang paling banyak menimbiulkan salah paham dan kebingungan dari banyak guru. Padahal TEMATIK STUDI adalah termasuk MATERIAL KURIKULUM, sedangkan WEB adalah termasuk MODEL KURIKULUM TERPADU. Mungkin artikel ini harus bersambung dengan penjelasan lebih detail tentang apa saja bagian dari MODEL KURIKULUM KLASIK dan TERPADU. Ditunggu kelanjutannya.

 

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers